Tanda Koma

Hari ini adalah akhir dari sesuatu.

Terakhir saya berkumpul dengan sekitar 150 teman satu angkatan, yaitu Axoneme, dokter lulusan fk unud 2004, dalam satu ruangan. Kami pernah melakukan ini sebelumnya sejak 6 tahun lalu, setiap hari sampai dua tahun lalu kami dibagi menjadi puluhan kelompok disebar ke seluruh penjuru rumah sakit. Itu tidak terlalu membuat kami saling kangen karena kami yakin di sela-sela itu semua, ada saja hari yang membuat kami saling bertemu, entah itu di kantin RS atau koridor RS. Entah itu pada saat aku sedang santai dan menertawakan temanku yang sudah dua hari tidak pulang ke rumah karena padatnya kegiatan di RS atau sebaliknya. Atau kami di stase yang berbeda dan bertemu di UGD, berbagi pasien yang terkena komplikasi. Atau di facebook, lewat kata “Semangat yaa…!” atau “ujian sama dokter siapa besok? Kok kayaknya statusmu ngeri amat…”. Atau di fotokopian Candra melihat punggung satu sama lain yang sibuk mencari arsip yang diperlukan untuk stase masing-masing. Lalu kami saling melupakan satu sama lain karena tenggelam pada tugas yang harus diselesaikan segera.

Sepertinya hal-hal itu tidak terjadi lagi, semua sudah berakhir. Mungkin kami akan sangat merindukan satu sama lain saat ini.

Dari 200 orang yang ada, aku cukup mendapat teman dan musuh secara bersamaan. Teman yang menjadi musuh dan musuh yang menjadi teman lagi pada akhirnya. Kami tidak melulu belajar literatur yang disarankan oleh dosen tapi kami juga belajar bekerja sama dengan grup kecil. Menjadikan keegoisan sebagai senjata untuk menginjak teman sendiri atau meleburkannya, menjadikan ketenaran kerabat sebagai keuntungan untuk diri sendiri atau membuat perubahan yang menguntungkan buat semua orang. Itu ada pada hari-hari kami. Juga berbagi hal kecil, seperti air minum atau snack pada saat jaga malam lelahnya kurang ajar.

Hal itu tidak akan pernah berakhir, tergantung perubahan yang kami hadapi nanti, seperti apa kami jadinya nanti setelah menjelajahi sekitar satu kaki hutan rimba setelah hari ini.

Hari ini cuma tanda koma yang menghubungkan kata-kata, cuma jeda euphoria sesaat sebelum akhirnya, beberapa jam kemudian, beberapa dari kami harus bekerja lagi di sebuah klinik, melayani panggilan pasien asing di hotel-hotel dan villa mewah di bali, atau memulai hidup sebagai PNS. Beberapa juga magang di RS tertentu dan yang lainnya masih menikmati beasiswa daerah mereka sampai awal tahun, lalu mengabdi pada daerah mereka lagi sebagai imbalannya.

Pidato hari ini dari kepala RSUP Sanglah Denpasar, “Dokter akan mencapai puncak karir pada usia 50-60 tahun, jadi teman sejawat, bersabarlah sedikit, kalau kalian tidak bersabar mungkin kalian akan menginjak dan menipu orang. Pada saat praktek, apa yang kalian bicarakan dengan pasien dalam satu ruangan tidak ada yang dapat mengontrol.” Pidato ini siapa saja yang mendengar selain aku?

Mungkin juga maksudnya kalau seseorang ingin kaya jangan pernah berpikiran menjadi dokter. Untuk orang tua yang ingin anaknya disanjung, jangan jadikan anakmu dokter.

Cerita akan terus berlanjut

, (koma)

Posted in Cerita Sekitar | 14 Comments

Rock Bar

Rock Bar.

A modern bar that tries not to leave the exoticism of Bali, which now slowly vanishing.

Imagine an opened air bar built on the top of the reefs, facing the sea, so you can see the waves crashing the reefs, creating a special sensation of wanting more like that. This bar is placed in Jimbaran, at Anaya hotel, exactly on the coast side.

To reach the bar from the hotel yard, we have to use the inclinator, free from the hotel, included in the service. If you’re lucky you won’t have to be in the waiting list.

Me and friends went there last month, not so lucky because we had to reserve the table 15 minutes before. The bar is usually full at 5 pm. People want to get there before the sunset. We came at about 4.30 pm and got the not-so-nice view from our table. I had to work hard to get the right angle, remembering also my old digital camera.

There are blocks where seats are clustered.Two of the blocks are fenched by the transparent glasses, and some are just by the rocks. One block consists of about six to ten tables. Each offers different point of view. We can just sit or go downstairs and walk along the beach under the rocks. Again if we are lucky we will get the good sofa where taking some pictures there are just right.

Rock Bar serves liquors like beers, spirits, wine etc. The price starts from 50k IDR to 4,920k IDR. Because we are local guests, the price was mentioned in IDR, I didn’t have the chance to look at the menus for foreigners. Snacks are also available but not too variable. The price also starts from 50k IDR.

For the afternoon chat, fascinating scene, modern but still exotic and glamorous place to hang out after the busy day, Rock Bar maybe the right choice to go to. Just don’t forget to bring the good camera.

Posted in Bali Trip | 5 Comments