Asalnya darimana?

Dulu waktu pertama kali datang ke Bali, pertanyaan ini dengan telaten saya jawab, karena pasti akan banyak pertanyaan. Bahkan pertanyaan ini pernah jadi topik pembahasan waktu saya ujian di salah satu stase saat masih menjadi dokter muda. Kadang kalau saya lagi males saya jawab “Dari Grogol”. Lalu ketawa  terbahak-bahak sambil makan sampah biar disangka beneran. Sampah itu kemudian saya semburkan ke si penanya dan bilang “Balikin anak gue!”. Mata saya akan melotot, jari kaki saya akan menunjuk ke langit-langit dan mengatakan bahwa kiamat akan datang saat global warming menjadi favorit Cinta laura. Saya tutup dengan seruan “Global Warming is so cool, and you know me so well !!!!”

Stop ngayalnya. Balik ke topik. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang paling banyak muncul adalah :

Asalnya dari mana?  Kok nama depannya begitu? Bapak dari mana? Terus mamanya orang mana? Lahirnya dimana jadinya? SMU nya dimana? Loh, emang paling lama tinggal dimana? Jawaban terakhir pasti : Ooooo berarti kamu orang Indonesia.

Atau bisa jadi ada lanjutannya,

Dulu gimana ayah dan mamamu nikah? Ga sulit? Ketemu dimana mereka? Nanti kamu mau cari jodoh orang bali atau tidak? Sekarang sudah punya pacar? Nanti mau nikah sama dia? Keluarga Bapak dimana sekarang? Keluarga Ibu? Ibu dan Ayahmu tidak pernah mempermasalahkan ini di pernikahannya?

Atau malah,

Menutmu bagaimana tentang hal seperti ini?

Kalau sudah ditanya seperti itu, saya dan lawan bicara mungkin sudah berbicara satu jam lebih mengenai asal usul saya. Itu artinya mereka pemerhati budaya. Mungkin. Mungkin juga hal yang aneh buat mereka. Mereka yang jarang keluar dari Bali biasanya.

Pernah juga ada yang berpura-pura simpati dengan menanyakan :

Oh iya, teman saya dulu juga ada yang begitu, sehingga jadi multi budaya ya? Enak dong jadi banyak teman. Memang pernikahan dua budaya dan dua agama sulit ya buat anak… (Padahal saya nyantai aja, karena seperti merasa tidak ada bedanya dengan keluarga lain. Lagian juga orang tua saya sekarang sudah satu agama, dan dari dulu sama sekali tanpa masalah.)

Btw, mungkin nanti kalau ada orang yang tanya lagi, saya akan menunjukkan KTP saja. Tapi tetap tidak akan menghindarkan puluhan pertanyaan. Saya yakin itu. Visitor tolong jangan tanya lagi di comment box, nanti kalau ketemu saya jelaskan. Hehheehe!

Posted in Hai Blog, Hari ini aku..... | 12 Comments

Tanda Koma

Hari ini adalah akhir dari sesuatu.

Terakhir saya berkumpul dengan sekitar 150 teman satu angkatan, yaitu Axoneme, dokter lulusan fk unud 2004, dalam satu ruangan. Kami pernah melakukan ini sebelumnya sejak 6 tahun lalu, setiap hari sampai dua tahun lalu kami dibagi menjadi puluhan kelompok disebar ke seluruh penjuru rumah sakit. Itu tidak terlalu membuat kami saling kangen karena kami yakin di sela-sela itu semua, ada saja hari yang membuat kami saling bertemu, entah itu di kantin RS atau koridor RS. Entah itu pada saat aku sedang santai dan menertawakan temanku yang sudah dua hari tidak pulang ke rumah karena padatnya kegiatan di RS atau sebaliknya. Atau kami di stase yang berbeda dan bertemu di UGD, berbagi pasien yang terkena komplikasi. Atau di facebook, lewat kata “Semangat yaa…!” atau “ujian sama dokter siapa besok? Kok kayaknya statusmu ngeri amat…”. Atau di fotokopian Candra melihat punggung satu sama lain yang sibuk mencari arsip yang diperlukan untuk stase masing-masing. Lalu kami saling melupakan satu sama lain karena tenggelam pada tugas yang harus diselesaikan segera.

Sepertinya hal-hal itu tidak terjadi lagi, semua sudah berakhir. Mungkin kami akan sangat merindukan satu sama lain saat ini.

Dari 200 orang yang ada, aku cukup mendapat teman dan musuh secara bersamaan. Teman yang menjadi musuh dan musuh yang menjadi teman lagi pada akhirnya. Kami tidak melulu belajar literatur yang disarankan oleh dosen tapi kami juga belajar bekerja sama dengan grup kecil. Menjadikan keegoisan sebagai senjata untuk menginjak teman sendiri atau meleburkannya, menjadikan ketenaran kerabat sebagai keuntungan untuk diri sendiri atau membuat perubahan yang menguntungkan buat semua orang. Itu ada pada hari-hari kami. Juga berbagi hal kecil, seperti air minum atau snack pada saat jaga malam lelahnya kurang ajar.

Hal itu tidak akan pernah berakhir, tergantung perubahan yang kami hadapi nanti, seperti apa kami jadinya nanti setelah menjelajahi sekitar satu kaki hutan rimba setelah hari ini.

Hari ini cuma tanda koma yang menghubungkan kata-kata, cuma jeda euphoria sesaat sebelum akhirnya, beberapa jam kemudian, beberapa dari kami harus bekerja lagi di sebuah klinik, melayani panggilan pasien asing di hotel-hotel dan villa mewah di bali, atau memulai hidup sebagai PNS. Beberapa juga magang di RS tertentu dan yang lainnya masih menikmati beasiswa daerah mereka sampai awal tahun, lalu mengabdi pada daerah mereka lagi sebagai imbalannya.

Pidato hari ini dari kepala RSUP Sanglah Denpasar, “Dokter akan mencapai puncak karir pada usia 50-60 tahun, jadi teman sejawat, bersabarlah sedikit, kalau kalian tidak bersabar mungkin kalian akan menginjak dan menipu orang. Pada saat praktek, apa yang kalian bicarakan dengan pasien dalam satu ruangan tidak ada yang dapat mengontrol.” Pidato ini siapa saja yang mendengar selain aku?

Mungkin juga maksudnya kalau seseorang ingin kaya jangan pernah berpikiran menjadi dokter. Untuk orang tua yang ingin anaknya disanjung, jangan jadikan anakmu dokter.

Cerita akan terus berlanjut

, (koma)

Posted in Cerita Sekitar | 14 Comments