Ayo PTT

Halo!

Saya  sudah sampai di tempat kerja saya yang baru. Kalimantan Selatan, kab. Hulu Sungai Tengah, kec. Batang Alai Timur, kel. Batutangga.

Saya bekerja sebagai dokter PTT.  Kalau dibandingkan dengan tempat bekerja saya yang dulu jelas lingkungan disini jauh berbeda. Disini bekerja dari jam 8 pagi yang dapat ditoleransi sampai….. sampai jam berapa situ maunya dan pulang sampai……. sampai sepulangnya. Kalau di klinik saya yang dulu harus teng, tong, yak, telat disindir! beberapa kali telat dipecat! Gajinya? sama saja, lebih malah. Itu belum kalau dapat sampingan. Huss! ayo ngomongin yang lain.

Saya tinggal di samping puskesmas, ga bayar, rumah dipinjamkan sampai habis masa tugas. Syukurlah….

Rumah Dinas ini bahkan terlalu besar buat satu orang, apalagi pemalas seperti saya. Ada tidak kurang dari 9 ruangan di rumah ini. Padahal saya hanya butuh 4. Satu kamar mandi, kamar tidur, dapur dan ruang periksa. Tapi ini jauh dari perkiraan. Rumah dinas ini hanya 5 meter dari puskesmas dan masuk dalam pekarangan puskesmas. Sekitar 200 meter  dari rumah ada menara indosat yang bisa bikin saya internetan tanpa henti kecuali lampu mati dan batere laptop drop.  Sekitar 10 meter dari rumah adalah rumah perawat dan persis di samping rumah dinas, nyebrang jalan adalah rumah bidan sekaligus suaminya yang ketua RT dan perawat koramil. Saya hari ini juga diberi satu motor dinas, lumayan untuk ke kabupaten atau ngejar tukang sayur yang juga tukang ngebut. Aneh, jualan keliling lah kok ngebut?

Budaya disini biasa saja, tidak terlalu jauh dengan di Jawa saya rasa. Perempuan-perempuan Banjar, yaitu orang Kalimantan Selatan yang beragama islam biasa memakai jilbab. Kalau ada perempuan yang tidak memakai jilbab sepertinya agak dianggap bukan islam. Tapi toh mereka mampu hidup berdampingan dengan orang Dayak yang agamanya Hindu Kaharingan dan Kristen. Itu dari yang saya amati selama ini sih…. entah kalau dulu pernah ada sesuatu. Tapi ada suatu kesulitan buat saya, saya harus beli beberapa celana panjang, karena di Bali biasa pakai celana pendek atau 3/4. Baju yang kelihatan pundaknya juga sangat aneh disini :D

Makanan. Ini yang penting melenting. Disini makanan jarang sayur. Paling mentok  makanan berkuah, tapi kalau mau masak sendiri, pasti ada saja yang jual sawi, tauge dan sedikit wortel mungkin. Paling banyak adalah terung. Saya tidak suka terung. Buah yang sering musim disini adalah duren, salak dan rambutan. Itu buah-buahan yang paling saya benci. T.T *Putus asa*

Well, sudahlah jangan bicarakan yang tak ada. Makanan khas disini rupanya ikan air tawar. Ikan Haruan dan ikan patin banyak dijual. Rasanya enak. Kalau sudah pernah mencoba menu Ketupat Kandangan yang disuguhkan dengan ikan Haruan pasti mau lagi. Satu lagi yang namanya Lapat, paling enak kalau dimakan pagi hari. Lapat seperti arem-arem di Jawa tapi tanpa isi. Beras yang ditanak jadi seperti lontong itu sudah gurih ditambah saus entah apalah itu yang bikin tambah enak, dan paling enak makan ditemani teh hangat setelah mandi pagi. Salah satu yang mirip dengan Lapat adalah Pundut, sama enaknya hanya Pundut lebih lembut dari Lapat. Disini juga sering dijual Payau yaitu daging menjangan, ini daging lembut sekali. Kabar baiknya, warung di depan rumah dinas sering menyediakan ikan patin atau sop iga. Makmur.

Pasien disini yang saya kira pasti banyak menderita penyakit inifeksi ternyata meleset. Dari awal saya bekerja di puskesmas pasien yang ada seputar hipertensi dan jantung. Sering malah pasien trauma karena pekerjaan ambil batu. Penyakit infeksi yang sering hanya sekitar influenza, saya tidak perlu repot mengeluarkan antibiotik untuk itu. Pasien hipertensi inilah yang bikin saya bingung, kok sering tidak terkontrol. Buruknya di puskesmas catatan tidak terlalu bagus, seperti misalnya hanya ditulis terapi dengan Captopril, tp tdk dijelaskan Captopril berapa mg dan berapa kali sehari. Ketika tanya pasien sudah tentu mereka tidak tahu apa yang selama ini mereka konsumsi. Pelajaran buat saya, bikin pasien ingat nama obatnya! Harus! Selain itu diabetes jg lumayan sering disini. Wew! Mungkin ternyata orang disini sedentary life semua. Tapi pekerjaan mereka rata-rata petani, penoreh karet dan ambil batu. Nanti pelan-pelan saya ingin tahu.

Moralnya jangan cari yang tidak ada, explore yang ada. Harapan saya semoga Tuhan membuat saya datang kesini untuk hal yang baik dan semoga yang saya dapatkan juga baik.

Baiklah, segitu dulu, nanti kalau ada yang seru lagi saya kabari. See you!

PKM Batutangga

Posted in PTT | 15 Comments

Prosa Dangdut

Kau pasti pernah membaca kalimat ini di novel atau dimana penulis suka mengatakannya :

“Cinta tak pernah sesederhana itu”.

Cinta memang tak pernah sesederhana kau menyukai seseorang di tempat kau biasa minum kopi dan karena hidungnya yang mancung itu kau akan menikahinya suatu hari.

Cinta juga tak sesederhana saat kau memutuskan hubungan karena pacarmu adalah seseorang yang suka berbicara tiada henti.

Cinta juga tak sesederhana saat kau menentang orang tuamu yang tidak menyetujuimu kau menikah dengan seseorang yang beragama lain. Saat kau tidak ingin menikahinya juga, ternyata memang bukan karena apa yang diinstruksikan orangtuamu.

Cinta juga bukan masalah toleransi. Toleransi itu ada batasnya tapi cinta tidak.
Cinta itu saat kau mencintai juga kekurangannya, tapi juga sadar kau tidak dapat mengubah watak seseorang.
Cinta juga bukan angan-angan seperti “kamu mungkin sekarang seorang yang sering memukuliku tapi aku yakin kamu akan berubah”.

Dan membenci pasanganmu juga tidak sederhana.
Sehari lalu kau bilang “Mulai besok, kita tak perlu berhubungan lagi” di saat pikiranmu sedang kalut, 5 menit kemudian kau akan mengatakan “Aku mencintaimu” dan kau sadar, tak akan pernah sesederhana itu membenci orang yang pernah kau cintai sejak dulu sampai 1 menit sebelum kau mengatakan itu.

Aku juga tidak begitu saja mencintaimu karena kau terus saja menjadi pundakku untuk bersandar dulu, tentu bukan.
Aku mencintaimu karena kau mencintai kekuranganku, bukan mentoleransinya.
Juga karena kau mau menunggu untukku siap mencintai kekuranganmu.

Cinta memang lebih rumit dari buku-buku yang pernah kubaca.
Untuk mengerti buku-buku itu kau tidak perlu melakukan hal gila dan tidak masuk akal berkali-kali.
Kau tidak perlu bermain dengan harapan yang sangat tinggi, menggantung di langit yang tak pernah kau lihat warnanya.
Setidaknya bersyukur saja, manusia dilahirkan dengan rasa itu, yang membedakan kita terhadap binatang.
Kau pernah merasakannya?

Jadi saat aku bilang “Aku sayang kamu juga” di saat-saat yang random, aku benar-benar bermaksud seperti itu, untuk semua yang kau punya dan yang tidak.

Posted in Cerita Sekitar | 11 Comments