On a bowl of yogurt we cry for today

June 9th, 2010

“Hhhooowwhhhh!!! Gue pengen nangis put… “, dia sudah mulai menunjukkan wajah yang sebenarnya samar-samar antara konstipasi atau sedih.

“Gue juga pengen nangis…. hhhhhh… udahlah”, kata saya padanya.

Kita belakangan memang sering sama-sama. Hari ini kita gagal sama-sama, pengen nangis sama-sama, didamprat sama-sama tadi malam, kita juga terlelap sama-sama di dapur, berbantal tangan dan berkasur kursi kayu. Dapat tempat tidur  sudah bersyukur, bahkan di lantai yang dinginpun rasanya tetep asoy.

Jadi koas ga selamanya lancar. Kadang ada yang bikin kita sedih melankolis atau senang sampai ingin merayakannya dengan begadang, berlawanan dengan kebutuhan tidur yang harusnya meningkat pada kaum kami. (Oya, dan belajar, biar ga disangka blog ini menyesatkan junior koas lainnya)

Tapi kita, aku dan seseorang yang menunjukkan muka konstipasi itu, punya spot untuk menumpahkan ke “engga banget” an, bergosip dan mengerjakan sesuatu yang ga penting. Toko yogurt dekat perempatan antara jalan teuku umar dan diponegoro, denpasar. Toko ini buka cabang di kota-kota besar jadi ga perlu saya iklankan disini.

Sampailah kita disana hari ini. Dalam beberapa menit kita tidak berbicara satu sama lain, cuma diam dan saling menertawakan, lalu mata kami berkaca-kaca, lalu tertawa lagi. Ga ada bedanya dengan pasien di Grogol, Porong atau Bangli.

Diantara itu kita tetap mengatakan hal yang sama dan ada ide gila darinya untuk bilang pada Emak masing-masing atas nasib yang menimpa. ” Tapi gue kalo nelpon Emak gue suka nangis put, ga kuat…!!”. Saya siap-siap menutupi muka dengan sofa yang saya duduki. Sukur emaknya ga ngangkat telponnya……. sukur…….

Sudahlah, toh semuanya akan kita lalui. Kita harus cepat-cepat keluar dari sini. Membawa sesuatu yang berharga untuk jadi dokter. Membawa semangat itu dan yang terbaik buat pasien-pasien kita nanti. Sakit hati jangan dibawa mati.

Yogurt porsi besar empat toping dan status twitter hari ini untuk hari yang lebih baik besok.

Amin.

“On a bowl of yogurt we cry for today. Not on your shoulder… :D Cc: @astiti”


112895731

Tentang Jodoh

June 3rd, 2010

tunnel

.

Jam 3.15 pagi. Waktu itu kami sedang menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan ujian. Ujiannya si Inyong. Saya membantu membuat profil pasien yang akan diujikan karena segalanya belum selesai untuk Inyong, dan saya sudah menyelesaikan semua, termasuk ujian di hari sebelumnya. Senang karena ketiganya. Yap! Saya sudah ujian, diminta tolong membantu dan akan ditraktir lobster setelah Inyong ujian. hehe!

Suasana belajar yang nyaman bagi Inyong adalah musik House yang keras, diikuti dengan suaranya sendiri yang bernyanyi lagu Rock, makanan yang banyak dan cappuccino dari convenient store. Ditambah kamar yang dingin dan apek, bau rokok. Sepertinya penghuninya merokok saat AC dinyalakan. Sedentary life! Buat saya, suasana itu pas saat sedang males mikir.

Tiba-tiba Inyong yang berdendang lagu Pelan-Pelan Saja di tengah alunan musik David Guetta nyeletuk,  “Put, kemaren-kemaren kita ngapain aja ya? Kok bisa-bisanya suka sama cowok kayak begitu?”.

Saya  yang sedang menulis profil pasien ujian agak sepet dengernya, “Maksod loh Nyong? udah pagi nih, cepetan ngafalin sana,  lo kan jam 9 ujian”

Dentuman musik house masih berlangsung, saya terdiam sebentar.

“Yah, mungkin ga jodoh lah kita. Ntar pasti dikasi yang lebih baik, amin ya oloh…. hehehe!”, saya berkata keras-keras supaya dapat mengalahkan suara musik, tapi asal.

“Amen amen amen…! hahaha!”, dia nyahut dari arah meja rias. Dia suka belajar di sana karena  ada cerminnya, sambil menemukan komedo di hidungnya.

Kita berdua lalu tertawa. Mungkin tetangga kos saat itu tidak bisa membedakan antara tertawa busuk manusia dan kuntilanak.

Tapi put…. gue rasa kita lebih banyak punya jodoh. Jadi kita dikasi Tuhan beberapa, untuk diuji coba, supaya kita tau aja mana yang cocok buat kita. Tuhan tau kali kita pemilih yang baik. Mungkin yang dikasi satu jodoh itu ga beruntung, mereka juga belum tentu nemu yang bagus, cuma terlanjur nikah sama mereka karena ga ada pilihan lain dan ga menikmati serunya berpetualang, hahaha!”, Inyong tiba-tiba nyerocos, bukannya belajar buat ujian.

“Hehhh?? iya kali…..”. Saya tidak begitu memperhatikan omongannya. Tapi cuma pura-pura.

Dia terlihat berpikir sebentar, lalu melanjutkan menghafalkan materi untuk wawancara ujiannya. Saya mengerjakan profil pasien yang berlembar-lembar supaya dia sukses ujian besok. Dia kembali menyanyikan lagu rock yang lain, sementara alunan musik David Guetta berubah jadi Lady Gaga.

Kadang Inyong begitu menyebalkan. Dia baru bergerak saat suasana sudah genting. Dia selalu menyuruh saya memilih untuk semua tempat yang akan kita kunjungi. Dia suka kata “Terserah eluw put, gue ngikut aja… hehe!”. Dia ga pernah bisa belajar bareng saya karena suasana belajar idealnya begitu aneh buat saya.

Tapi itulah kenapa saya suka sekali dengan Inyong. Ambang stresnya yang sangat tinggi membuat ketegangan saya hilang. Dia juga tahu saya lebih suka memilih sendiri daripada dipilihkan. Dia tidak pernah merasa memiliki sesuatu. Yang terakhir, dia menerima semua pengalaman sebagai hadiah walaupun caranya sinting, sedangkan saya mengingkari pernah mempunyai pengalaman yang menyakitkan dengan berpura-pura tidak apa-apa.  Dia kemudian mengajak saya keluar dari jaman purbakala, melewati lorong waktu untuk melihat masa depan yang seru.

**gambar oleh gettyimages.com