Archive for the ‘Health Issue’ Category

JKBM, Tunjukkan KTP Bali Anda!

Saturday, January 2nd, 2010

JKBM.

Jika Anda rajin baca koran lokal di Bali, pasti tahu istilah ini.

Jaminan Kesehatan Bali Mandara, yang intinya adalah pelayanan kesehatan gratis untuk penduduk Bali dengan KTP Bali. Kabar baik kan? Anda bisa bernafas sedikit lega karena pelayanan ini mulai berlaku pada 1 Januari 2010.

Alur untuk mendapatkan layanan adalah dengan memeriksakan diri ke Puskesmas wilayah Anda dan mendapat surat rujukan untuk ke Rumah Sakit jika memang perlu dirujuk. Tetapi, jika puskesmas masih mampu menangani, Anda cukup diobati di Puskesmas, tentu juga tanpa tarif. Jika dalam keadaan darurat dan Anda tidak sempat membawa diri Anda ke puskesmas, tidak punya waktu untuk mengurus ini dan itu karena kerabat Anda dalam kondisi kritis misalnya, cukup tunjukkan ktp yang bersangkutan pada bagian administrasi Rumah Sakit Umum Pusat atau Daerah, dan Anda akan mendapatkan pelayanan gratis untuk masalah kesehatan. Tentu yang akan berlaku adalah KTP propinsi Bali.

Yang akan Anda dapatkan adalah pelayanan poliklinik dengan obat-obat generik, pelayanan rawat inap dan rawat darurat di UGD. Tetapi, pelayanan ini tidak berlaku untuk Anda yang ingin dirawat inap di VIP, kamar kelas I, kelas II atau untuk Anda yang ingin mendapatkan obat paten dari RS.

Kabar baiknya, respon masyarakat sangat tinggi di RSUD Gianyar. Banyak pasien yang datang berkunjung ke RS karena layanan ini sangat menguntungkan.

Untuk Anda yang berasal dari Jembrana, layanan ini tidak berlaku, karena Jembrana sudah mempunyai program pelayanan kesehatan dengan sistem yang mirip dengan JKBM.

Info lebih lengkap bisa Anda dapatkan di Puskesmas terdekat.

Semoga Bali lebih sehat dan produktif!

Rabies, Cara Murah Mencegahnya

Thursday, October 22nd, 2009

Pernah digigit anjing, monyet, atau kucing?

Apa yang Anda lakukan?

Cuma dioles betadin?

Tahukah kalau itu bisa jadi berbahaya?

Rabies adalah penyakit yang biasa disebut masyarakat penyakit anjing gila, walaupun sebenarnya penyakit ini bisa ditularkan oleh binatang berdarah panas lainnya. Bahkan, kelelawar di suatu gua di amerika bisa menularkan rabies pada pengunjung gua itu saat mereka menghirup udara di gua. Jadi, kelelawar itu menularkan rabies dari udara yang dihembuskannya dan dihirup oleh manusia yang lewat.

Bukan bermaksud menakuti, tapi perkembangan kasus rabies di Indonesia, khususnya di Bali sungguh memprihatinkan. Sampai sekarang tidak ada obat untuk seseorang yang sudah menunjukkan gejala rabies.

Cara mencegahnya mudah dan murah, jadi saya mohon, pedulilah pada diri sendiri dan anak-anak Anda. Saat Anda atau anak Anda digigit anjing atau binatang lainnya :

1. Cuci luka gigitan selama minimal 15 menit dengan sabun pada air mengalir .

Itu minimal, jadi jangan sampai kurang. Anda bisa melakukannya sampai 30 menit. Sabun akan membantu virus rabies yang lengket dengan lemak tercuci dengan sabun.  Anak kecil akan merasakan ini perih dan tidak nyaman, tapi tetap lakukan.

2. Kunjungi UGD terdekat, minta untuk dibersihkan, tapi jangan minta dijahit.

UGD tahu cara menangani luka gigitan, petugas kesehatan akan memberi banyak antiseptik dan akan dilakukan sedikit lama. Rasanya agak perih terutama untuk anak kecil. Jahitan untuk luka gigitan malah akan membuat luka yang lubang jadi tertutup. Resikonya adalah nanah yang akan keluar dari jaringan mati yang digerogoti bakteri.

3. Minta Vaksin SEGERA. GRATIS.

Di Bali , yang disediakan adalah VAR. Vaksin untuk Rabies yang akan disuntikkan gratis pada korban yang terkena gigitan binatang. Untuk wilayah lain info bisa didapatkan di RS terdekat.

4. AWASI

Jika yang menggigit adalah binatang peliharaan Anda, awasi hewan tersebut, apakah dalam waktu setidaknya 10 hari hewan itu mati. Hal ini tidak dapat dilakukan jika yang menggigit adalah hewan liar. Jadi, laporkan pada RT/Kelian banjar atau pihak yang dapat meneruskan informasi ke badan peternakan.

Di sebagian desa di kecamatan Kerambitan, kabupaten Tabanan Bali, malah dilakukan usaha dengan membunuh semua anjing pada suatu desa untuk mencegah penularan Rabies, tidak terkecuali hewan peliharaan. Di Kabupaten Tabanan sendiri, sudah ada 5 nyawa melayang pasien suspect Rabies. Sayang, walaupun beberapa diantaranya menunjukkan gejala khas Rabies setelah digigit anjing yang mengamuk, anjing itu dibunuh dan tidak dikubur sehingga tidak bisa diotopsi untuk dibuktikan.

Pertimbangan antara nyawa manusia atau nyawa anjing memang harus dipikirkan.

Apakah Anda akan mempertaruhkan nyawa anak atau diri Anda karena anjing Anda seharga jutaan rupiah yang Anda sayangi?

Apakah Anda akan mempertaruhkan nyawa anak atau diri Anda karena rasa perih saat mencuci luka bekas gigitan atau saat petugas UGD melakukan suntikan?

Hal-hal tersebut harus dipikirkan. Ingat, WHO sendiri sudah menerima laporan dari Departemen Agrikultur tentang outbreak rabies pada anjing pada bulan Desember 2008 dan 90% penular rabies pada manusia adalah anjing. Bukankah bodoh kalau kita tidak waspada?