Category: Pengalaman Dokter Muda

Co as, Dokter Muda, Intern, Whatever You Name It!

Koas kalo diceritain emang ga ada habisnya. Mungkin akan ada banyak seri cerita sampai saya lulus dari FK.

Sekarang mari kuceritakan tentang perbedaan koas malas, koas patologis, koas penjahat dan koas idealis.

Koas malas adalah koas yang kerjanya diem, duduk, nulis, nontonin orang kerja, nulis dan diem lagi. Koas macam ini sering bikin koas yang lain geregetan. Apalagi saat jaga di UGD, tiap ada pasien dia duduk di kursi nungguin kertas-kertas urusan administrasi, menyalin anamnesis residen, menawari residen nitip makanan saat dia pengen pergi makan, lalu datang kembali untuk duduk. Di atas jam 11 malam dia sudah terlelap di kursi UGD seakan sangat lelah menulis seharian, dan seolah tidak dapat dibangunkan sampai pagi. Jika ada pasien datang, dia akan tetap terlelap, dihipnotis oleh air conditioner di UGD yang sepoi-sepoi. Sesekali dia akan bangun, melihat-lihat di sekelilingnya lalu tidur lagi.


Diskriminasi

Sekitar jam 7 Pagi kami semua sudah berkumpul di ruang pertemuan.  Semua dokter muda, termasuk saya, duduk mengelilingi meja bundar dan menunggu seorang pemateri yang setidaknya akan membuat kami semua sedikit berilmu sebelum pergi ke poliklinik untuk berpraktek. Setelah menunggu sekitar setengah jam, petugas ruangan itu masuk dan mengatakan “Adik-adik tolong tunggu sebentar ya, pemateri sedang makan pagi”. Sungguh informasi yang tak penting…….

Akhirnya, setelah satu jam lebih kita semua menunggu sambil membuka buku prosedur terapi dan diktat, bergosip dan makan snack untuk mengatasi lapar karena belum makan pagi, datanglah sang pemateri berwajah klimis, baunya wangi, rapih dan berwibawa.

“Selamat pagi adik-adik, pada ngantuk ya, kita kenalan dulu saja deh, coba dari kiri saya, adik siapa namanya?”, pemateri  itu memulai perkenalan.

“Saya Armanila Yestanto”, Nila menjawab

“Asalnya dari mana dik?”, pemateri  itu melanjutkan pertanyaannya.

“Saya asli sini, tinggal di Jalan ****”,  Nila menjawab lagi

“Orang tuanya kerja dimana?” pemateri itu menggali data Nila

“Ayah saya kerja di RS X, di sub bagian Y, dokter spesialis A”

Pemateri itu tersenyum dan langsung akrab dengan Nila, menanyakan kabar ayahnya, menceritakan bagaimana akrabnya dia dengan ayahnya, padahal Nila sendiri baru tahu bahwa ayahnya ternyata kenal dengan sang pemateri.

Pemateri itu melanjutkan sesi perkenalan itu “Yak, kamu sebelah Nila, dari mana, siapa namanya?”

“Saya Siti Zarlina, dari **** “,  Zarli memperkenalkan dirinya.

“Oh… itu di daerahmu ada yang membunuh suku saya, kamu tetangganya ya?”, kali ini air mukanya serius, kita yang ada disana masih cekikikan, menduga pemateri itu bercanda.

“Mmm… yang kasus pembunuhan mana ya?”, Zarli bertanya setengah tertawa, berpikir itu lucu.

“Masa kamu ga tau, saya ga bercanda kok, kamu pasti kenal, daerahmu itu kan sempit, kamu pasti tau, atau kamu pura-pura ga tau ya..”, air mukanya mendadak serius, membuat kami jadi heran, kenapa hal tersebut begitu penting.

“Mmmm… wah saya ga tau”, Zarli kebingungan karena sang pemateri ternyata tidak bercanda.

“Ow… ya, selanjutnya”,  pemateri itu menjawab dengan nada dingin dan perkenalan itu terus berlanjut, sampai akhirnya semua dokter muda disitu memperkenalkan diri.

****

Di suasana lain, saat saya jaga malam di UGD, beberapa bulan lalu, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih bayi. Entah kenapa teman berjaga saya saat itu hilang tiba-tiba. Saya diperintahkan oleh senior untuk mengenakan hanschoen (sarung tangan) sebelum memeriksa si bayi. Saya pikir, tumben saja senior itu berbaik hati mempersilakan saya memeriksa pasien ini, begitu juga perawat yang saat itu sedang bertugas bersama. Inilah giliran saya, si beruntung yag mendapat peluang.

Setelah saya periksa, saya laporkan hasil pemeriksaan dan senior itu mempercayai saya.  Tanpa ba-bi-bu , senior tersebut memberi perintah pada perawat, dan perawat memberi instruksi pada saya untuk memulai terapi. Setelah semuanya diatasi, saya melihat riwayat pasien yang tadinya masih dipegang oleh senior. Ternyata pasien itu adalah pasien dengan HIV yang didapat dari ibunya, dan ibunya mendapatkannya dari suaminya. Saya tidak kaget karena menurut saya itu hal yang lumrah, pasien apa saja bisa datang ke UGD, tetapi yang membuat saya heran adalah perlakuan yang diterima si ibu dan bayinya itu. Kenapa dia terkesan harus dijauhi.

Tidak hanya sesekali hal ini terjadi. Masih banyak kejadian yang menurut saya terlalu jelek untuk diungkapkan. Beberapa orang masih menganggap mendiskriminasikan sesuatu itu hal yang wajar. Berpihak pada yang terbanyak, terkaya, terpandang, yang sehat , orang sesuku dan menjauhi si miskin, si sakit dan si infamous itu akan menghindarkan mereka dari kerugian.

Mulai sekarang seharusnya tidak perlu sok suci dengan berbaju putih dan berkelakuan sopan.

Attitude itu dari hati, bukan dari cara bersopan santun pada orang yang berpengaruh terhadap masa depan kita, sehingga kita tidak sungkan untuk membenarkan diskriminasi berkedok mawas diri.

*See also : http://www.stop-discrimination.info


Lab. Bedah itu menyenangkan?

Saya ingat waktu hari pertama jaga di lab. Bedah.

Bingung…..! Takut….!

Saat pasien dibawa dalam keadaan kesakitan dengan bed dari luar UGD, saya bersiap, tapi tidak tahu apa yang harus saya siapkan. Bahkan, untuk melihat pasien, menanyakan apa yang terjadi dengannya saja, saya tidak berani.

Kenapa? Bukan karena lukanya yang menganga, bukan karena darahnya yang tercecer atau suaranya yang keras (AARRGGHH!! Tolong dokter Sakkiitt!!) atau karena keluarganya yang panik, tapi karena saya belum tahu apa yang harus diperbuat, siapa yang harus saya lapori kalau saya tidak tahu sesuatu, apakah pasien itu dalam keadaan gawat, dimana harus ditempatkan, apa yang dia perlukan.

Saya terus mengekor di belakang senior saya hari itu. “Kak….. kalau pasien datang, kasitau aku ya ada apa dengan dia, musti ngapain…”, bisikku.

“Jeg tenang gen….. ikut-ikut aja… ntar juga tau….”, kata senior saya itu sambil menarik ke atas celana pinknya yang kedodoran.

Tapi senior itu bohong. Justru kalau saya ikut-ikut terus saya tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan pasien itu.

Hari kedua saya nekat.

Saat ada pasien datang, saya langsung berdiri di depan, dekat dengan residen yang ingin menangani pasien. Kepala saya yang kosong ini ternyata masih punya telinga dan dapat mendengarkan perkataan si pasien beserta pertanyaan-pertanyaan residen saya, sambil sesekali menolongnya mengambil sesuatu untuk keperluan pasien. Dari sana saya tahu apa yang harus dikerjakan, walaupun dengan sedikit payah karena saya lebih banyak tidur setelah jaga. Hanya belajar sedikit. (Sedikittttt aja….) hehe!

Sepertinya saya terlihat seperti si bodoh bersemangat sampai minggu kedua, mungkin sampai minggu ketiga ini juga. Tapi setidaknya, saya sedikit demi sedikit tahu apa yang harus dikerjakan dan jujur saja, kegiatan jaga, walaupun pasien tidak berhenti datang ke UGD seperti sabtu lalu, sangat menyenangkan.

Jaga di Bedah itu menyenangkan selama ini, karena disana kita banyak belajar dari residen yang hampir semuanya kooperatif, mau sedikit berbuih untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan pasien, walaupun dalam setiap pertanyaannya, kita menjawab dengan “Hehe! Ga ngerti dok, jadi gimana sih….?”, beberapa dari mereka tersenyum dan menjelaskan lagi.

Tidak semua residen seperti itu memang, tapi dalam setiap jaga malam, ada saja yang begitu, sehingga saat jaga kita mendapatkan sesuatu, tidak hanya sekadar membantu mendorong bed pasien ke tempat radiografi, disuruh ambil hasil lab sambil ngantuk, atau membetulkan infus pasien yang macet, atau yang parah lagi, dibentak-bentak.

Mungkin inilah mengapa, banyak sekali dokter muda yang bilang, lab yang paling menyenangkan adalah Bedah.

Disini saya jadi tahu, ternyata seseorang yang mau membagi ilmunya akan lebih dihargai walaupun kenyataannya, ilmu orang itu lebih sedikit daripada seseorang yang tak berbagi, dan rahasia dalam kerjasama yang bagus adalah senyum dan berbagi.