Lucky

Sekitar jam 23.00 sabtu malam minggu saya agak ngantuk karena dari siang sampai sore saya habiskan di tempat yang jaraknya satu jam dari tempat saya tinggal.

Setelah mandi, saya nonton TV acara komedi yang sudah akan berakhir. Saya besarkan volume karena Sule sedang melawak. Lalu saya dengar seperti suara agak berisik dari belakang rumah, sepertinya angin yang sedang melawan seng yang memagari area belakang rumah.

Saya tidak memikirkan suara itu sampai terdengar suara pintu yang dibuka dengan sangat pelan. Sangat pelan tapi sangat terdengar. Saya mulai curiga sesuatu, lalu saya minta nomor Bapak pesuruh lewat kepala puskesmas, ternyata kepala puskesmas tidak punya nomor itu. Lalu saya minta nomor tetangga saya yang juga petugas gizi di puskesmas dan punya suami polisi. Kepala puskesmas memberikan nomor hp. Kenapa saya minta nomor hp semua orang? karena BB saya rusak dan semua kontak hilang, sekarang saya cuma punya hp kecil yang usianya baru semingguan.

“Mbak, bisa saya minta tolong? Saya tidak berani keluar atau bersuara, tapi saya merasa ada orang di ruang tengah. Apa bisa mbak ke rumah saya sm suami untuk nengok? Trims banyak”. Itu sms saya untuk si Mbak.

tidak ada balasan. Saya miscall. sekali. dua kali. Nomor itu menelfon balik.

“Bu dokter, ada apa? saya bapak Ilmi”

Salah nomor. Ternyata nomor perawat gigi. Pak Ilmi memberi saya nomor Mbak Eka yang kemudian saya kirimi SMS yang sama, saya miscall, tapi tidak juga ada jawaban. Lalu saya telpon. Dengan suara panik dia menjawab “Ibu! Teriak saja! suami saya tidak ada! saya juga tidak berani keluar dengan keadaan ini”

Saya tutup telponnya, saya SMS. “Saya minta tolong mbak! siapapun! tetangga manapun yang mbak punya telponnya! siapapun!

Tiba-tiba terdengar suara “Klik!”

Seseorang mematikan lampu ruang tengah.

Saya semakin panik. Saya telpon Pak Ilmi, “Tolong pak!” dengan suara berbisik. Lalu mbak Eka, dengan bisik yang sama, berkali-kali.

Suara langkah kaki terdengar, lalu pelaku sepertinya membuka pintu kamar yang lain, membuka gudang dan seperti tersandung sesuatu, seperti sapu atau entah apa. Lalu suara langkah kaki terdengar lagi.

Tiba-tiba keadaan hening, tapi jantung saya terpacu semakin cepat. Saya sangat takut. Sangat!

Tidak sampai 1 menit setelah keadaan hening, seluruh rumah menjadi gelap gulita. Saya tidak tahu apakah itu lampu mati atau seseorang mematikan meteran listrik, karena memang posisi meteran itu di luar rumah.

Saya semakin gencar menelpon. Saya tidak berani berteriak karena tidak yakin seseorang akan keluar untuk menolong saya dalam keadaan itu. Kalau ditolong sih enak, tapi kalau mereka tidak berani dan ternyata malah memberikan rasa aman pada pelaku karena permintaan tolong saya tidak ditanggapi bagaimana?

Suara motor terdengar dari luar, lalu suara-suara di ruang tengah makin menjadi, seperti ada orang lari. Lalu terdengar suara seng lagi. Suara yang terdengar paling awal saat saya menonton TV.

“BU!! KELUAR!!” suami mbak Eka menggedor jendela kamar saya. “BU!! CEPAT!! NYALAKAN LAMPU!!” dia berteriak dari luar sambil menggedor jendela kamar.

“SAYA TIDAK TAU! ADA ORANG!! LISTRIK DIMATIKAN!!” teriak saya. “TOLONG SAYA PAK!!”, lagi teriak saya. Sementara itu seseorang lagi yang menemani suami Mbak Eka berusaha mendobrak pintu utama saya.

Saya beranikan diri keluar, dengan lampu emergency, saya nekat karena sedikit merasa aman. Saya sampai di pintu utama “BUKA PINTU DARI DALAM! BU! CEPAT!!” Saya buka pintu utama yang saya pikir terkunci tapi ternyata tidak. Pintu itu tidak terkunci lagi, cuma kuncinya saja yang masih digantungkan Seseorang mengunci saya dari luar. Di luar pintu ada grendel. Orang itu mengunci saya dengan grendel di luar.

“PAK!! BUKAKAN!! SAYA TERKUNCI!!” saya teriak lagi.

“BRRAANNNGG!!!” suara seng di belakang.

“AAAAAAAAAAA!!! PAK TOLOONNGG!!”, pintu sudah terbuka dan saya segera keluar. Seseorang menaiki seng dari area jemuran di belakang.

Setelah saya keluar, masih terdengar suara dari genteng, seperti orang lari melewatinya, atau seng. Tapi yang jelas dia tidak terlihat karena sebelum dia mematikan meteran listrik, dia terlebih dahulu mematikan lampu ruang tengah agar tidak terlihat saat kabur dari ruang tengah ke belakang, jadi dengan menyalakan listrik dari pusat, lampu ruang tengah masih mati.

Tidak ada seorang pun tetangga keluar saat saya teriak, tapi begitu semua aman, tetangga baru mengerumuni. Dua diantaranya bilang memang takut malah karena mendengar teriakan saya.

Apa jadinya kalau saya memutuskan teriak? Mungkin saya sudah terbunuh atau entah apa. Karena tidak ada satupun barang yang hilang di luar. Pelaku benar-benar ingin masuk kamar, entah apa niatnya. Dan dia merencanakan itu di rumah saya, karena dari Sule melawak sampai saya keluar rumah itu sekitar satu jam selisih waktunya.

Seperti yang saya selalu bilang saat orang menakuti saya dengan hantu di rumah dinas, saya takut dengan yang bisa membunuh atau menyakiti, seperti yang terjadi sabtu lalu.

I was lucky. This reminded me to something, the Genovese Effect.

This entry was posted in Cerita Sekitar. Bookmark the permalink.

6 Responses to Lucky

  1. Sagala says:

    Oke deh, cerita di atas cerita hantu ya :)

  2. Ini kisah nyatamu, ti? Seru juga ya. Untung pertolongan segera datang.

    Jaga diri baik-baik ya.

  3. dendi says:

    astaga, baru baca put. untung gak kenapa2. yg sabar ya di tanah orang di sana. dikirim doa cepat balik lagi ke tanah bali dari sini. ;)

  4. thelor says:

    byuh, serem juga ya, lha suamimu kemana? eh :D
    siapin parang/pisau di kamar, kalo ada senapan sekalian, tapi akan lebih baik klo kamu gak sendiri siy :)

  5. a! says:

    aduh. ngeri banget ceritamu, put. kok aku baru tau ya. ini bener2 ngeri. kalo aku jadi kamu pasti udah terpipis-pipis.

    atau.. kamu juga sudah ngompol di celana? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>