Sebenarnya banyak yang bisa diceritakan tentang keseharian di desa yang listriknya sering mati karena banyak pohon jatuh yang menimpa kabel PLN ini. Saya biasanya suka mengganggu mbak operatornya yang sering menjawab dengan “Haalllaaaooooocchhh??” di ujung sana, ga tau di ujung mana, suaranya seperti berada di penghujung apa gitu, entahlah.
Sebulan lalu, kami, yaitu saya, staff puskesmas yang terdiri dari kepala puskesmas, bendahara, TU dan beberapa perawat pergi ke desa terpencil yang beruntungnya masih bisa dicapai oleh motor. Jalannya tidak beraspal, melewati jembatan gantung yang goyang kalau dilewati satu motor saja, melewati hutan dan tiba-tiba….. *Tadaa!* Ada pemukiman penduduk di tengahnya. Bayangkan cerita di kuntilanak 3 atau jelangkung yang aktornya tersesat di hutan dan ketemu pemukiman penduduk yang hanya terdiri dari beberapa rumah papan dan kosong. Bedanya ini ada orangnya dan sangat ramah
Disana kami mengadakan pemeriksaan kesehatan, yang sebenarnya tidak maksimal karena kami diminta oleh pemimpin adat untuk mengadakan pemeriksaan bersamaan dengan upacara perkawinan yang baru dimulai jam 12 malam.
Iya, orang suku Dayak di Maliringan, nama desa yang kami kunjungi, mengadakan upacara atau hajatan malam, karena…….. karena menurut opini kami sendiri -itu juga karena saya tanya sama orang asli sana jawabnya “Kada tahu leh, sudah adatnya pang (ga tau juga dah, uda adat kaleeeee)- masyarakat saat pagi banyak kerjaan. Bertani, menoreh karet dan sebagainya, sehingga waktu matahari terbenam mereka bisa istirahat atau makan-makan di tempat hajatan. Kalau pagi, bukankah tidak akan ada yang datang ke hajatan? begitu bukan? Menurut kami sih…..
Sampai di Maliringan sudah senja dan kami semua bau dan harus mandi. Ini yang paling berkesan. Saya dan Helma, teman perempuan yang saya lengketin karena lumayan tahu medan mengusulkan mandi saat mulai remang-remang.
Sodara-sodara, tertawalah, saya belum pernah mandi yang meliputi sikat gigi, keramas, dan sebagainya beserta pup, di sungai, dilihat orang, belum pernah, dan di Maliringan, saya ternoda. Oke! ga segitunya, tapi mandi di sungai dengan berbalut sarung saja? Begitulah. Setelah 20 menit mengumpulkan keberanian untuk dilihat orang, ya sudah, nyebur! Kulit agak gatal setelah mandi. Kata Helma, waktu dulu dia pertama kali mandi di sungai juga begitu, lama-lama akan terbiasa. Saya tidak percaya dan tidak mandi pada keesokan harinya. Hihi!
Setelah mandi dan makan, kami istirahat sampai jam 11 malam menunggu mulainya acara, briefing sebentar dan mulai melaksanakan tugas. Setelah pemeriksaan kesehatan, jam 12 malam upacara dimulai.
Upacara dimulai dengan penusukan babi hutan. Babi ditusuk sampai mati tapi tidak boleh tembus. Kalau tembus yang menusuk bisa kena denda. Mempelai ada di dalam balai desa. Yang perempuan dipakaikan baju adat dan mempelai duduk di hadapan semacam penghulunya, didoakan dari malam sampai pagi. Lamaaa sekali. Apa kaki mereka tidak kesemutan ya?
Sementara tamu yang datang kesana saat mempelai didoakan diberi lamang, beras yang ditanak dalam bambu dan harus dimakan. Menghormati katanya, tapi katanya lagi biar lekas menikah, at least begitu kata tour guide kami yang kurang berpengalaman, yang juga perawat di puskesmas kami. Lah kalau yang makan sudah punya istri bagaimana?
Saat acara berlangsung, di luar balai ada banyak penduduk yang asyik dengan permainan kartu dan domino. Kalau di Bali namanya ceki, judi yang menggunakan kartu.
Setelah puas melihat mempelai wanita dipakaikan baju, terpesona dengan cara memakaikan baju yang tanpa harus telanjang, baju bisa diganti oleh perias dengan tangan terampil, lamang saya entah terlupa dimana, kami melihat kelanjutan pembantaian babi yang menegangkan.
Puas melihat pembantaian babi, kami mencari tempat tidur yang nyaman, diuntungkan dengan saudara salah satu perawat, saya, Helma dan dua orang perawat lain memperoleh tempat luas untuk tidur daripada berdesakan dengan staff lain di rumah penduduk. Dasar buah simalakama, salah satu perawat mempunyai masalah tidur, tiba-tiba ngigau, duduk sendiri, mengajak kami ngobrol tak tentu arah, tertidur lalu bangun lagi. Yang satu lagi sibuk mencari pacarnya yang dibawa lari orang. Saya sulit tidur karena perawat yang pengennya ngobrol dan perawat pencari pacar yang sering buka-buka pintu ruang tamu galau dan gelisah, sampai akhirnya…… tidak bisa tidur. Helma sukses terlelap. Helma, kok bisa sih???!! *jambak-jambak rambut*
Pagi datang, kami bersiap. Setelah cuci muka dan sikat gigi di sungai, saya dan Helma membantu ibu Pambakal (istri kepala desa) menyiapkan makanan untuk kami berlimabelas. Kami berdua tidak makan, biar tidak ikut keracunan.
Pulang dari sana saya belajar kosakata baru, “Mulang ka tilung = pulang ke rumah” yang kata tour guide abal-abal kami akan bisa menjadikan saya profesor kalau saya pulang ke Bali dan menggelegarkan kata-kata baru itu di Renon dan mengaku itu kalimat yang saya ciptakan sendiri. Mmmm…. jalan pikirnya memang sulit diresapi.
Maliringan menyisakan rindu, tapi sekali-sekali saja yah…. Hihi!
Nanti saya kabari lagi.
See you!

Wah, saya berharap saya ada di sana dengan kamera saya saat Putri nyebur sungai
.
Kayaknya pake BB ambil photo bisa deh, lengkapi postingan dengan photo dong pasti lebih menarik
Bener itu om,
tepat sebelum berangkat saya dapet pasien darurat jadi lupa bawa camera digital yg sudah sy charge sedemikian sehingga, sesi foto-foto lumayan gagal. BB ga dibawa karena ga ada gunanya disana, listrik aja ga ada, apalagi sinyal. Itu foto-foto sy dapet ala kadarnya dari hape salah satu perawat. Begitulah.
yah, ending ceritanya gak seru. dikirain di sana dilamar sama putra kepala suku dan langsung dinikahkan saat itu juga. pasti lebih seru hehehe
aku bikin ending cerita itu, kalo Nekad Traveler tokoh utamanya kawin sama Susi.
wah… ke pedalaman dayak… keren… udah lama gak jalan2 lagi euy kesana
malam bu, dokter..kenapa gak PTT d kupang saja..kan gak seserem d kalimantan..mang cowonya di kalimantan yah maka nya pindah kalimantan…wahhhhh…selamat yahh.hati2 hooo di kalimantan ntar jadi orang dayak lagi,,he,ehe,eheeeee…salam dari temen2 di BEM