Berdansalah Denganku

Saat itu malam sudah mulai berakhir. Aku hanya membawa tas kecil berisi uang yang tidak cukup bahkan untuk membeli rokok satu batangpun. Hari itu semua sedang marah. Aku pergi dengan wajah lebam dan makeup yang berantakan. Sialnya aku tidak punya uang.

Aku duduk di trotoar pinggir jalan, memandangi mobil lalu-lalang dan asap keluar dari lubang gorong-gorong, berbau tikus mati. Ada sebatang rokok yang baru dibuang, apinya masih ada. Aku memngutnya, sedikit bahagia. Kaleng bir yang dibuang di tempat sampah, masih menyisakan sedikit daripada tak ada. Musik salsa entah darimana asalnya. Aku mendengar seruan yang ingin memeriahkan pesta.  Namun bagiku, mobil tetap lalu lalang, langit tetap tak berbintang.

Di seberang jalan, kamu berlari, tapi berhenti melihatku. Aku tak beranjak, kamu tersenyum dan menyapa, aku tak mengenalmu. Kamu tetap tersenyum, menghampiri dan mengulurkan tanganmu mengajak. “Danse avec moi!”. Aku tertawa cekikikan. Anak muda ini konyol sekali, dikira aku siapa. Perempuan darimana yang bisa diajak berdansa seenaknya. Tapi tak ada salahnya. Aku memegang tangannya, kau ajak berlari ke tempat musik salsa.

Ramai sekali. Semua orang bersenang-senang. Aku ikut terlarut dalam kegembiraan. Kita berlari ke tengah. Ikut berdansa, tertawa, euforia, tak pernah lelah. Kita berdansa seperti pagi tak akan pernah ada. “Lady, tu es belle”. Aku tertawa terbahak-bahak. Anak ini keterlaluan juga, mengatakan perempuan dengan muka lebam begini demikian. Aku tetap tak peduli. Musiknya sangat meriah.

Semua orang disana boleh minum gratis. Kita mendapat 2 gelas pitcher, entah apa isinya. Kamu tak ingin meminumnya, “Aku yang minum saja, boleh?” kataku sambil mengeraskan suara agar tak kalah dengan musik. Kamu mengangguk heran. Mungkin kamu tak pernah menduga. 1 gelas, 2 gelas, 3 gelas. Kepalaku mulai melayang. Aku tak tahu apa yang kita bicarakan. Tapi aku hanya dapat melihatmu muram. Mengernyitkan dahi dan diam tak bergerak. Musik masih meriah, suasana semakin gelap. Musik meriah dan kamu semakin memudar……

Pagi setelahnya entah aku dimana. Melihatmu tersenyum dari arah sofa dekat tempat tidurku dengan mata yang merah, wajah yang kusut seperti tak pernah tidur seumur hidupmu. “Kau tak tidur?” tanyaku. Kamu menggeleng sambil memalingkan muka, beranjak dari sana. “Syukurlah kau sudah bangun, aku harus pergi”. “Kemana?” tanyaku lagi. “Tempatku”. Aku tidak peduli dan kembali menaruh kepalaku di atas bantal. Aku memejamkan mataku beberapa lama. Sepintas tadi aku melihat, keningmu lebam, robek di bagian kiri. Aku membuka mata dan memejamkan mataku lagi, melihat kelebatan memori tadi malam. Aku yang melakukannya, membuatnya begitu. Malam itu aku terlalu mabuk dan berpikir tindakanku itu lucu, lalu kamu samar-samar kelihatan, juga ingatanku.

Hari berikutnya aku kembali ke tempat yang sama. Mendengar musik yang sama, melihat wajah tersenyum yang sama, wajahmu. Kali ini kau hanya lari ke tempat yang sama, aku diam di tempatku, di seberangmu. Tidak menolak ajakanmu, tapi kau tak mengulurkan tangan itu lagi.

Aku kembali di hari kemudian, dan esoknya lagi. Berharap bisa mengatakan maaf, dan berdansa denganmu di tempat yang lain. Tanpa keriaan hanya ketenangan, sehingga kita bisa bicara banyak, tentang apa yang kita sukai dan tidak. Tentang kata maaf yang harusnya diucapkan pada waktu yang tepat. Tentang tindakan yang pantas, yang membuatmu juga sesenang aku saat malam itu. Tentang peduli pada orang lain, bukan hanya pada diriku sendiri.

– Brainstorming ini tidak di edit, ditulis dalam 10 menit dan ga boleh ada yang protes karena ga ngerti, hehe! –

This entry was posted in Cerita Sekitar. Bookmark the permalink.

3 Responses to Berdansalah Denganku

  1. Cahya says:

    Ini sepertinya terpengaruh Mas Anton yang habis berkeliling Eropa :)

    Kapan kamu akan jalan-jalan ke sana?

  2. Putri says:

    kemaren udah, jam 8 malem. tapi cuma otakku aja yang jalan kesana. Ga sampe 15 menit lagi. Makanya inkoheren gitu. Hehe!
    Kata The Cranberries : “Just my imagination…..”

  3. fanny says:

    dansa apa dulu nih? tango? cha cha?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>