Perempuan janganlah murung,
Janganlah diam, menangis, lalu takut.
Topanglah bumi, ciptakan busur langit, warna-warni saat hujan pergi…….

Untuk perempuan yang terdiam tadi malam,
Tak semua orang mengerti perasaan kita, seperti kau mengerti perasaannya. Tak juga semua orang memahami apa yang kita mau seperti kau sangat paham apa kemauannya, tapi kita tak perlu repot untuk terus memahaminya. Saat kau berhenti berpikir dan merenung seperti tadi malam, kau akan tahu kau bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah. Kau akan tahu betapa kau telah menyakiti dirimu dengan terdiam. Kau akan tahu suaramu sangat indah bila didengar. Kau akan tahu perasaanmu pantas. Kau juga bukan penyulit saat kau bicara. Seribu kata tak pernah menjadi penyulit siapapun. Yang paling sulit adalah saat kau tak ada disampingnya.
Untuk perempuan yang menangis tadi malam,
Tak semua orang ingin bersama kita. Kau tak perlu mencari tahu kenapa. Kau tak perlu mempertahankannya karena kau ingin tahu kenapa. Kau akan lihat waktumu terbuang untuk sesuatu yang tidak akan kau temukan. Untuk sesuatu yang membuatmu makin sedih di hari kemudian. Bahkan saat kau tahu kenyataannya. Yang perlu kau tahu, kita akan selalu diinginkan. Hanya mereka tak pernah bicara. Dia tak pernah berkata. Kau akan tahu seberapa banyak yang menginginkanmu saat kau berhenti menangis. Tak perlu bertanya. Kau hanya perlu mengucapkan salam. Membiarkan mereka tahu hatimu telah terbuka.
Untuk perempuan yang menoreh pisau di tangannya,
Tak ada yang adil di dunia ini. Rambutku lebih bagus darimu. Bibirmu lebih indah dariku. Hanya kau tak pernah berkaca jadi kau takkan pernah tau. Mungkin kau terlalu banyak mendengar. Kata-kata yang melumpuhkanmu. Mungkin kau orang yang baik. Mendengar nasihat sampai ke hati. Atau kau tidak mendengarnya lagi, tapi menyesal sampai ingin mati. Tak ada yang adil, tapi semua berjalan. Kau hanya perlu berjalan, maka kau akan tahu. Berjalan satu langkah, dua langkah, pelan-pelan dahulu tak perlu buru-buru. Kau akan tahu, dunia yang tidak adil itu indah. Seindah bibirmu yang tersenyum itu.
Untuk perempuan yang ketakutan tadi malam,
Kita memiliki tubuh untuk dijaga, bukan ditakuti. Satu hal yang tak pernah kau duga. Keperawananmu memang ada artinya. Tapi artinya semacam harga. Untuk penikmatnya. Dan penikmatnya hanya menilai kau dari hal itu. Mereka kadang tak bertanya kenapa bisa hilang begitu. Apakah kau dipaksa, disakiti saat menghilangkannya, kadang penikmatnya tak mau peduli. Harga itu melekat saat kau takut. Dia hilang bersama keyakinanmu. Keyakinan bahwa kau punya ribuan hal lain yang istimewa. Bukan hanya lembaran tipis yang menghantuimu itu. Kau hanya perlu dirimu sendiri dan seseorang yang menikahimu karena ribuan hal tadi.
Perempuan janganlah murung.
Jadilah kuat agar dapat menopang bumi, dan ciptakan busur langit yang warna-warni saat hujan pergi.
*Foto diambil dari webcam teman dengan ijin setulus hati.

Selamat hari Kartini, Putri
Kamu boleh terdiam, boleh menangis, boleh murung, boleh ketakutan, tapi jangan sampai kau toreh pisau di tanganmu yang lembut itu. Suamimu menunggu tangan itu mengusap wajahnya lembut. Apalagi bayimu, kamu tau kan maksudku…
betapa istimewanya jemari perempuan yang menorehkan lembar tulisan ini. Masih banyak hal yang lebih membanggakan perempuan daripada lembaran tipis yang menjadi hantu itu
selamat hari kartini putri. hoho
sepakat lah mbak tumik….!
Seperti kata teman perempuanku, “jadilah kuat, semuanya akan baik-baik saja” …