Trunyan adalah wilayah di Kintamani, di seberang danau Batur. Desa tempat kita bisa menemui mayat yang tidak dikubur, dan tidak bau. Jangankan orang Indonesia asli, orang Bali sendiri belum tentu pernah sampai kesana.
Kenapa bisa begitu?
Untuk mencapai Trunyan dari Kintamani, butuh sekitar 1 jam dan jangan berpikir untuk bawa mobil sedan seperti kami.
Keluarga saya berangkat dari Denpasar ke arah Bangli, menjemput saya di RSJ Bangli karena sudah selesai berobat saya sedang bertugas di RS Bangli dan menginap di pondok dokter muda yang hanya ada di RSJ. Lalu saya bersama keluarga berangkat dengan mobil sedan (bodohnya), nekat ke Kintamani dan lanjut ke Trunyan di saat suasana sedang mendung dan hujan rintik-rintik.
Mama sudah tegang, diam sambil melihat keluar jendela, pasti karena berpikir, kenapa kita harus datang jauh-jauh dari Denpasar yang jaraknya 2 jam dari Kintamani cuma untuk lihat mayat.
Perjalanan ke Trunyan kami nikmati dengan menyebut nama-nama Tuhan, bukan karena rajin berdzikir, tapi karena mobil itu harus melewati pinggiran gunung yang jalannya terjal, berpasir, naik turun dan sempit dibatasi jurang dan yang paling penting, jauh. Nggak sampai-sampai. Sementara yang lain sibuk menyelamatkan diri dengan doa, saya melongok keluar melihat danau yang tenang dan luas.
Semakin kabutnya turun, semakin misterius danau itu dan semakin dalam kelihatannya. What a scene……!
Setelah satu jam perjalanan dengan tujuan utama ke ujung jalan yang kami sendiri tidak tahu itu dimana, laki-laki mengendarai sepeda motor tiba-tiba mengikuti dan mengetuk jendela mobil. Kami pikir preman, ternyata dia menanyakan tujuan. Dengan jujur, setengah lega dan curiga tante katakan “Trunyan, yang tempat kuburan itu pak”. Bapak itu langsung menimpali “Mau ke setra ya?”. Tante pun melirik saya, saya langsung mengangguk memberi tanda itu arti yang sama dengan kuburan yang dimaksud tante.
Laki-laki itu menawarkan harga perahu dan guiding. Oh here we go….. we got caught. Pasti mahal. Dan benarlah. Kita harus mengeluarkan uang 150 ribu untuk perahu dan jasa guiding. Kami diantar ke dermaga kecil. Tempat perahu dayung mangkal. Karena saya ga ikut bayar, pemandangan saat ada di perahu dayung itu jadi sangat indah…… Kabutnya bagus, airnya tenang, tebing di sekelilingnya tinggi. Danau itu luas sekali. Cuma suara kami yang terdengar, mungkin yang paling keras diantara suara lain di danau itu.
Menurut Bapak pendayung perahu yang ternyata juga guide kami, mayat yang ada di setra adalah yang meninggal dengan wajar, tidak kecelakaan, tidak bunuh diri, tidak dibunuh, diperkosa atau hamil saat meninggal. Penilaian itu tentu secara subjektif. Jika ada yang meninggal dibunuh dengan potassium saat hamil 1 bulan tentu tidak ada yang tau kan…. Well, kita serahkan semua pada adat desa. Saya pun tak melanjutkan pertanyaan kewajaran orang yang sudah meninggal.
Yang perlu diketahui, uang yang keluar ternyata tidak hanya untuk jasa perahu dan guiding, tapi juga sumbangan seikhlasnya untuk memelihara setra, mungkin untuk menata tengkorak yang berserakan seperti gambar di halaman depan ^^, dan memelihara mayat, mungkin juga agar tidak bau.
Sang guide juga membenarkan tentang pohon kemenyan yang menyerap bau mayat disana. Sementara kami sibuk mencari-cari barang yang berhubungan dengan formalin, balsam atau semacamnya yang masuk akal. Kami juga memikirkan kemungkinan udara yang dingin dan kering yang membuat mayat tidak membusuk.
Oya, disana banyak tikus putih. Entah darimana asalnya.
Saya pikir, overall, Trunyan itu indah, karena danaunya terutama, dan karena saya tidak ikut bayar.
Untuk yang suka tempat terpencil, tenang dan sedikit misterius, Trunyan bisa jadi tempat tujuan wisata.
*model adalah : kakak ipar (baju kuning), sepupu (dengan jilbab), mama (jaket merah) dan mamanya sepupu aka tante (baju hitam).



Wah, enaknya dia bisa wisata di sana. Di sini cuma hutan beton
Btw, gambarnya agak streatching ya?
Wah, nanti rencananya aku mau backpacking ke bali tuh put ama fanny kalo ada waktu libur. Ajakin kesana ya… (aku ga perlu mahal2 nyewa jasa guide. hehe)
ga bagus ya blog baruku? huhu
Agak serem kalo udah bca mistis2 begini, karena suka ada hal di luar akal sehat.
Apakah mayat2 itu boleh difoto? Tapi saya mungkin setuju bahwa bisa saja ada penjelasan logis kenapa mayat2 itu tidak bau, mungkin udara yg menyerap bau2 itu atau tanahnya, atau pohonnya.
Saya paling suka sama hal-hal yang berbau misteri, selalu ada hal-hal di luar akal sehat yang menanti kita di luar sana. Salam jepret!
wah takut ah ngunjungin mayat hiiiiiii
tempatnya indah yaa.. tapi serem juga tuh
Ti, kok ceritanya cuma sampai tengkorak sih? Kamu ke sana ndak tanya-tanya sekalian lihat-lihat keadaan desanya? Kebiasaan masyarakatnya selain ndak mengubur orang meninggal itu? Dan sebagainya? Rasanya sayang aja kalau jarang-jarang bisa berkunjung ke sana tapi ndak mengeksplor lebih jauh.
Tapi, karena kamu pernah ke sana, berarti kamulah orang yang layak kuajak kalau aku berencana ke Trunyan.
sampai saat ini belum pernah ke Trunyan
bentar2, jadi wisatanya ke kuburan begitu? wah… gak ngeri ya? saya mah kalau gak nyekar gk mau… hehe
Hahaha, pemandangan jadi bagus karena tidak ikut patungan bayar naik perahu.
Berarti sebenarnya bagus ndak ya pemandangannya secara obyektif ? hehehe
Mas Ben
http://bentoelisan.blog.com
Sebenernya, secara obyektif memang pemandangannya bagus banget mas Ben, cuma ditambah gratis, pemandangannya jadi T.O.P B.G.T ! Monggo dicoba deh…
Oya mas, dibawah signature ga perlu dikasi link biar ga disensor sama Akismet, kan sudah ada kolom khusus buat link ke blog.
Thanks for visiting.
Maen ke Toraja…
disana juga ada kuburan gua yang semua jenasahnya cuma ditaruh dicela-cela bebatuan gua.
Ini juga nga bau.
Pernah ke Bali, tapi hanya sampai Kintamani. Pengennya sih turun ke Trunyan, tapi si Agen Travel katanya gak ngagendain.
Bali emang OK.
salah satu tempat yang ingin dari dulu aku kunjungi…
waktu tahun baruan di Songan sama Mas Anton, Mbok lUhde, Tulank, Rara, Rahaji dan Lina pengen banget kita kesana, tapi karena tiga orang wanita disana sedang berhalangan yah ga jadi deh kesana, katanya kalau berhalangan ga boleh nyebrang Danau…
wah,,pas ke kintamani dulu gk ke Trunyan.. maklum,,gk kuat bayar ongkos perahu nya…. (pdhal seh takut ditinggal ma tukang yg bawa perahu,,halah…)
salam kenal….
wah baru tau ada tempat yg namanya trunyan, kmrn ke bali cuma sampe kintamani doang.
bsk2 ke bali ke sana ah, dan tentunya hrs ketemu sama putri hehehhe