Ngomongin orang itu dosa, tapi mari kita membicarakan karakter seseorang, mungkin juga diantara kita ada yang sama.
Aurelia saja ya namanya. Ini tokoh fiktif, walaupun nama itu terinspirasi dari genus hewan ubur-ubur.
Saya pernah kenal dengan seseorang yang mirip dengan Aurelia. Didengar bagus, dilihat bagus, semakin dilihat malah semakin bagus. Senyumnya bukan manis, tapi sempurna, bahkan walaupun cuma terlihat dari samping, cuma dari sudut bibirnya, senyumnya sangat cantik. Saya kenal Aurelia di tempat saya kuliah. Teman saat tugas di lab yang sama.
Aurelia ini cepat dikenal oleh semua yang ada di lab, iya dong, pintar, cantik, dibawa ke kondangan ga malu-maluin, tapi dia tidak pernah punya sahabat, tidak punya teman dekat yang lengket kemana-mana. Atau punya pacar bahkan….
Cantik tapi aneh, menurut saya. Orang cantik ga punya pacar dari lahir pasti kelainan. Entah keinginannya terlalu tinggi atau dia tidak suka laki-laki dan ingin pacaran dengan perempuan yang lebih cantik dari dia. (Saya musti jauh-jauh nih dari dia, uhum!).
Karena saya tidak punya teman lagi selain Aurelia di lab itu, terpaksa saya berteman dengan dia. Minggu kedelapan dia baru bisa buka mulut. Cerita-cerita tentang hal-hal perempuan, (dengan perempuan lain saya cuma butuh waktu 2 – 3 minggu kerja di lab yang sama) yang ga jauh-jauh seputar laki-laki dan keluh kesah.
Lalu saya tanya kenapa dia suka sendirian. Orang cantik bego itu bilang dia sulit bersahabat, selalu punya masalah dengan sahabat dekat, mencoba pacaran tapi tak pernah ada yang dia inginkan. Well, yea, dia punya banyak bekas pacar, yang dipacari 1 – 2 minggu. Saya tidak hitung itu, jadi saya memutuskan dia tidak punya pacar dari lahir. Saya punya definisi pacar sendiri.
“Aku ini susah dimengerti, mungkin itu makanya aku ga punya temen deket, karena aku benci orang yang ga mau ngerti, semaunya sendiri”. Saya diam, siap-siap mendengarkan hal lain. Sepertinya dia punya jutaan kata di ujung lidahnya. “Jujur Put, kadang aku juga suka kesel sama kamu, waktu aku sakit, kamu ga ngerti, kamu malah minta aku terus-terusan ke RS, kerja kelompok. Aku bingung, mungkin karena aku susah dimengerti ya…” Dia bilang itu dengan sinis. Sangat sinis sampai bikin saya kesal. Lalu dia meneruskan dengan semua luapan emosinya tentang saya yang tidak mau mengerti saat dia sedang diperintah oleh kepala ruangan untuk segera ke dokter penguji dan lain – lain yang baru saya mengerti sekarang. Dia pun tidak berhenti marah.
Mungkin dia bertemu dengan orang yang tepat, saya suka sedikit debat di hari yang sedang sulit. “Kamu tidak pernah memberitahu…. Kamu tidak telpon, kamu tidak bilang ada apa, kamu cuma marah tanpa sebab, lalu diam dan berlalu, penjelasan dari mimik muka? pantomim?”. Lalu dia melanjutkan kemarahannya. Saya bosan dan pergi. Saya sudah setengah jam mendengarnya uring-uringan. Saya masih punya tugas lain. Saya tidak tertarik dengan orang yang baru saya kenal, marah-marah menyalahkan orang lain.
Dia menjadi populer tahun ini dengan paras cantiknya, karakternya yang kata orang misterius yang membuat semua orang punya pendapat sendiri tentang Aurelia.
Dia jadi mirip puisi. Puisi tidak punya sahabat. Puisi dibuat penulisnya saat dia sendirian. Jarang membentuk paduan puisi seperti paduan suara. Seperti Aurelia yang sendirian. Puisi menjelaskan sesuatu yang tersirat, menurut maknanya sendiri. Seperti kata “Bulan” pada puisi yang saya artikan sinar temaram, orang lain mengatakan itu keindahan dan yang lainnya mengartikan itu sebagai kekasih. Yang tahu artinya hanya penulisnya. Penulisnya mungkin berharap karyanya dikenal orang, dengan mengaburkan makna, berharap kita bisa mendalaminya. Kebanyakan penulis juga mengharap pembaca tahu artinya.
Saya pikir saya tidak perlu menjadi puisi seperti Aurelia yang indah. Saya hanya tidak ingin saya dimengerti diri sendiri. Lebih baik saya jadi poster yang mudah dimengerti, berwarna cukup bagus untuk dilihat dengan bahasa sederhana, mampu menarik pembacanya. Itu saja sudah cukup. Pembuat poster akan terbantu dengan warna dan kata-kata yang dituliskan. Saya juga lebih sering berada di tempat yang tepat, sesuai dengan target pasar. hehehe!!

If you need a wall to collapse, you may call a heart breaker, not as an offensive action, but to let someone sees the real heart deep within the fake one which always become its own mirroring…
If there is understanding, then we may see, that we are not so different each other….
aurellia ini bukan kamu kan put.?
.
ehh.. kamu sudah punya pacar ding..
Saya juga paling malas, sama orang yang baru kenal sudah suka marah-marah ndak jelas. Apalagi kalau marahnya ndak logis blass! Makanya saya pergi. Saya bukan mereka yang cuma bisa diam dan (sok) sabar berhadapan dengan orang seperti Aurelia itu. Lebih baik saya punya 1000 musuh, daripada punya 1 teman yang memuakkan.
Untungnya saya selama ini tidak mengalami hal yang sama.
Kamu yakin dia marah put? …
. IMHO, mungkin dia nemuin ruang yg tepat di kamu utk berkeluh-kesah dan bicara jujur sama kamu tapi mungkin dia hanya “belum” tahu cara yang tepat utk ngungkapin kejujurannya. Maksud hati mau curhat, tp karena bahasa yg sedikit meluap2kan emosi eh dikira marah.
Ketika orang jujur tentang kita walaupun dengan bahasa yang menyakitkan, ketika itu kita belajar tentang diri kita lebih dalam. Kamu harus berterima kasih ke dia atas kejujurannya tentang kamu, tapi minta juga dia belajar make bahasa yang lebih sederhana biar gak jadinya salah paham. Sing keto bu dokter?
Eh cantik ya, kenalin dong? …. hahahahah
itu poinnya pri…..
aku pikir, untuk curhat, untuk mengatakan perasaan, pada sebagian orang ga mudah.
Cara yang salah membuat orang sekitar jadi merasa dia adalah orang yang aneh.
Sebenarnya, intinya, seandainya aurelia bilang dia dalam kesulitan, toh orang di sekitarnya lebih punya kemungkinan untuk memahami.
Bukannya malah ngedumel sendiri dan tidak bilang dia kesulitan, berharap kita membaca pikirannya.
Mana mungkin orang yang tidak diberitahu bahwa aurelia sedang dipanggil penguji misalnya, tiba2 tahu karena baca pikiran. Mungkin kalau orang itu punya indera keenam pri…..
By the way, tokoh Aurelia ga ada kok pri.
Aku cuma terinspirasi dari Japanese Drama, Zettai Kareshi.
oalah jeng putri, kok membuka aib diri sendiri. hehe..
emang nyebelin kalo ada org kayak aurelia gt, suruh minum racun aja deh