Archive for February, 2010

Kamu Mirip Puisi

Ngomongin orang itu dosa, tapi mari kita membicarakan karakter seseorang, mungkin juga diantara kita ada yang sama.

Aurelia saja ya namanya. Ini tokoh fiktif, walaupun nama itu terinspirasi dari genus hewan ubur-ubur.

Saya pernah kenal dengan seseorang yang mirip dengan Aurelia. Didengar bagus, dilihat bagus, semakin dilihat malah semakin bagus. Senyumnya bukan manis, tapi sempurna, bahkan walaupun cuma terlihat dari samping, cuma dari sudut bibirnya, senyumnya sangat cantik. Saya kenal Aurelia di tempat saya kuliah. Teman saat tugas di lab yang sama.

Aurelia ini cepat dikenal oleh semua yang ada di lab, iya dong, pintar, cantik, dibawa ke kondangan ga malu-maluin,  tapi dia tidak pernah punya sahabat, tidak punya teman dekat yang lengket kemana-mana. Atau punya pacar bahkan….

Cantik tapi aneh, menurut saya. Orang cantik ga punya pacar dari lahir pasti kelainan. Entah keinginannya terlalu tinggi atau dia tidak suka laki-laki dan ingin pacaran dengan perempuan yang lebih cantik dari dia. (Saya musti jauh-jauh nih dari dia, uhum!).

Karena saya tidak punya teman lagi selain Aurelia di lab itu, terpaksa saya berteman dengan dia. Minggu kedelapan dia baru bisa buka mulut. Cerita-cerita tentang hal-hal perempuan, (dengan perempuan lain saya cuma butuh waktu 2 – 3 minggu kerja di lab yang sama) yang ga jauh-jauh seputar laki-laki dan keluh kesah.

Lalu saya tanya kenapa dia suka sendirian. Orang cantik bego itu bilang dia sulit bersahabat, selalu punya masalah dengan sahabat dekat, mencoba pacaran tapi tak pernah ada yang dia inginkan. Well, yea, dia punya banyak bekas pacar, yang dipacari 1 – 2 minggu. Saya tidak hitung itu, jadi saya memutuskan dia tidak punya pacar dari lahir. Saya punya definisi pacar sendiri.

“Aku ini susah dimengerti, mungkin itu makanya aku ga punya temen deket, karena aku benci orang yang ga mau ngerti, semaunya sendiri”. Saya diam, siap-siap mendengarkan hal lain. Sepertinya dia punya jutaan kata di ujung lidahnya. “Jujur Put, kadang aku juga suka kesel sama kamu, waktu aku sakit, kamu ga ngerti, kamu malah minta aku terus-terusan ke RS, kerja kelompok. Aku bingung, mungkin karena aku susah dimengerti ya…” Dia bilang itu dengan sinis. Sangat sinis sampai bikin saya kesal. Lalu dia meneruskan dengan semua luapan emosinya tentang saya yang tidak mau mengerti saat dia sedang diperintah oleh kepala ruangan untuk segera ke dokter penguji dan lain – lain yang baru saya mengerti sekarang. Dia pun tidak berhenti marah.

Mungkin dia bertemu dengan orang yang tepat, saya suka sedikit debat di hari yang sedang sulit. “Kamu tidak pernah memberitahu…. Kamu tidak telpon, kamu tidak bilang ada apa, kamu cuma marah tanpa sebab, lalu diam dan berlalu, penjelasan dari mimik muka? pantomim?”. Lalu dia melanjutkan kemarahannya. Saya bosan dan pergi. Saya sudah setengah jam mendengarnya uring-uringan. Saya masih punya tugas lain. Saya tidak tertarik dengan orang yang baru saya kenal, marah-marah menyalahkan orang lain.

Dia menjadi populer tahun ini dengan paras cantiknya, karakternya yang kata orang misterius yang membuat semua orang punya pendapat sendiri tentang Aurelia.

Dia jadi mirip puisi. Puisi tidak punya sahabat. Puisi dibuat penulisnya saat dia sendirian. Jarang membentuk paduan puisi seperti paduan suara. Seperti Aurelia yang sendirian. Puisi menjelaskan sesuatu yang tersirat, menurut maknanya sendiri. Seperti kata “Bulan” pada puisi yang saya artikan sinar temaram, orang lain mengatakan itu keindahan dan yang lainnya mengartikan itu sebagai kekasih. Yang tahu artinya hanya penulisnya. Penulisnya mungkin berharap karyanya dikenal orang, dengan mengaburkan makna, berharap kita bisa mendalaminya. Kebanyakan penulis juga mengharap pembaca tahu artinya.

Saya pikir saya tidak perlu menjadi puisi seperti Aurelia yang indah. Saya hanya tidak ingin saya dimengerti diri sendiri. Lebih baik saya jadi poster yang mudah dimengerti, berwarna cukup bagus untuk dilihat dengan bahasa sederhana, mampu menarik pembacanya. Itu saja sudah cukup. Pembuat poster akan terbantu dengan warna dan kata-kata yang dituliskan. Saya juga lebih sering berada di tempat yang tepat, sesuai dengan target pasar. hehehe!!


Trunyan, Tempat Menemui Yang Mati

Trunyan adalah wilayah di Kintamani, di seberang danau Batur. Desa tempat kita bisa menemui mayat yang tidak dikubur, dan tidak bau. Jangankan orang Indonesia asli, orang Bali sendiri belum tentu pernah sampai kesana.

Kenapa bisa begitu?