Ini hari Minggu, dan saya datang ke rumah teman untuk mendiskusikan rencana penelitian di Puskesmas Kerambitan I. Penelitian kecil tentang kejadian Rabies di daerah itu. Namun, disini saya tidak akan menceritakan penelitian dan kehidupan di Kerambitan.
Sebuah bulletin 2 lembar berwarna hitam putih ada di atas meja, gambar depannya seorang wanita dengan dandanan tahun 1960 an.
Wanita itu adalah Catherine Genovese (Kitty), seorang wanita yang tinggal di New York, berprofesi sebagai manager bar di New York sana.
Dini hari, bulan Maret 1964, Genovese pulang dari tempat kerjanya menuju apartemen mengendarai mobil. Saat memarkirkannya di Long Island Railroad parking lot, sekitar 20 meter dari apartemennya, dia merasa diikuti oleh seseorang dari belakang. Saat Kitty turun dari mobil, dia melihat seorang laki-laki di belakangnya yang memegang pisau. Kitty lari menuju apartemen, tetapi sayang, laki-laki itu lebih cepat dari Kitty.
Laki-laki itu lalu meraih tubuh Kitty dan menusuk punggungnya beberapa kali. Kitty lalu jatuh ke tanah dan berteriak kepada siapapun yang bisa mendengarnya. “Oh Tuhan, dia menusukku! Tolong aku! Tolong!”. Teriakan itu berhasil membangunkan tetangga di sekitar dan membuat laki-laki itu pergi dari tempat kejadian. Terdengar suara keras, “Hey! Tinggalkan wanita itu!”. Suara itu datang dari tetangga apartemennya di lantai tujuh, tapi lalu suasana kembali senyap. Tak seorang pun turun dan menolong Kitty yang berlumuran darah. Lampu-lampu kembali mati dan gelap.
Kitty berjuang untuk tetap sadar dan meraih pintu apartemen yang terkunci, tapi tak beruntung, 5 menit kemudian laki-laki itu kembali datang, memukuli Kitty, memperkosanya dan menusuknya kembali beberapa kali lalu mengambil dompet yang berisi $49 dollar dan meninggalkan Kitty tewas di tempat parkir itu.
Kejadian ini menimbulkan pembicaraan di Amerika Serikat dan munculnya istilah Genovese Syndrome yang disebut juga bystander effec,t dimana, pada suatu saat yang darurat banyak orang yang dapat menolong tapi tak satupun yang menawarkan pertolongan atau langsung menolong.
Ini sama dengan saat seseorang mengalami kecelakaan motor, 10 orang lalu berhenti dan menonton, setelah puas tertegun, mesin kembali dinyalakan dan berjalan.
Saya yakin banyak kejadian seperti ini, tak hanya Catherine Genovese, tapi apa jadinya jika Catherine Genovese adalah diri sendiri. Bagaimana rasanya meminta tolong tapi tak ada yang menjawab. Sakit hati sampai mati.

Yup yup, gw juga kmarenan ada baca tentang genovese effect ini put.., kayanya karena orang semakin egois and ga mau ikut campur…
“The only thing necessary for the triumph of evil is a good man to do nothing”
Then we would not surprise anymore if finding the sam scene
sip mes, aku setuju sama kamu…
buat putri uda pake plugin wp-thread comment blum??
Pasangin donnnggg….
kejadian seperti ini memang sering terjadi di jalan, terutama bila kecelakaan yang parah sampai timbul korban jiwa.
malah dijadikan tontonan gitu maksudnya ya Bli?
Genovese efek sering terjadi di sekitar kita, banyak orang yang kehilangan nurani untuk peduli kepada sesama (jadi instropeksi diri sendiri, apa termasuk yang menonton Jeng Genovese
). Praktek seperti itu mungkin sering dilakukan oleh paparazi kalee…
.
sometimes….. I think so…
dari dulu pengen jadi superman, supaya hal itu ga terjadi
Bukannya kamu jual Beras Super? **jaka sembung bawa golok…**
Tindakan sering kali berbeda dengan jawaban pas ulangan PPKN ya…
Makanya dok, PPKN pelajarannya kaga seru, hahay!
kalo kamu yg ditodong pisau, aku pasti menolongmu kok. santai aja. :p
Nanti kalo gantian om anton yang ditodong, aku sembunyi di belakang om anton… hahaha!!
Kamu tau ndak, bahwa di Indonesia, kalau ndak menolong orang yang membutuhkan pertolongan atau meninggalkan orang lain yang membutuhkan pertolongan adalah melanggar hukum?
Maksudnya, harusnya penjara sudah penuh gitu ?:|
Aq malahan ga tahu yang namanya genoseve efek…untung ada artikel ini jadi tahu deh Genoseve Efek…makasih Put!!
makasi juga sudah mau berkunjung
kisah yg tragis…
moga aja semuanya berjalan lancar
n semua orang bisa berbuat baek…
yukz! amin….
Kalo melihat kejadian kayak begitu, apa kita gak kepikir, gimana seandainya kita yg nanti kecelakaan lalu tak ada yg menolong? Bgmn rasanya? Duh mudah2an saya masih punya syaraf menolong…
“Mudah-mudahan kita semua masih ya mbak Zee…
”
Klo semua orang berbuat baik siapa yang berbuat jahat??
Bukannya baik dan buruk ga bisa dipisahkan??
btw, bagaimana mengeja Genovese??
pernah lihat polisi berame-rame nangkep dan mukulin pendemo di tv?
pernah lihat korban bom bali berdarah-darah di tv?
pertanyaanku, apa semua kameraman yg merekam kejadian itu terkena Genovese Efek?? karena tetap merekam kejadian bukannya menolong korban??
jadi mari berbagi tak pernah rugi…
“Genovese, dibaca je: no veis. menurutku memang ada baik buruk dari satu hal, tapi itu juga pilihan, kita mau jadi bagian yang mana. wartawan yang mengabadikan suatu momen pemukulan itu, mereka cukup berani cari uang seperti itu, dan bisa jadi bukti di persidangan atas pemukulan itu. aku juga ga bisa bicara lebih lanjut, semua kita serahkan sama wartawan itu, mereka hanya menonton atau menolong sekalian, itu pilihan lagi”
*jdi arwah gentayangan….*
hemm genovese efek…dah ada ampir di setiap kota2 besar” apa lagi jakarta(loe yah loe,,,gua yah gua..itu kan urusan loe bukan urusan gua)
**Urusan kita berdua gimana?**
Pingback: Lucky | Putriastiti.com