Archive for October, 2009

Rabies, Cara Murah Mencegahnya

Thursday, October 22nd, 2009

Pernah digigit anjing, monyet, atau kucing?

Apa yang Anda lakukan?

Cuma dioles betadin?

Tahukah kalau itu bisa jadi berbahaya?

Rabies adalah penyakit yang biasa disebut masyarakat penyakit anjing gila, walaupun sebenarnya penyakit ini bisa ditularkan oleh binatang berdarah panas lainnya. Bahkan, kelelawar di suatu gua di amerika bisa menularkan rabies pada pengunjung gua itu saat mereka menghirup udara di gua. Jadi, kelelawar itu menularkan rabies dari udara yang dihembuskannya dan dihirup oleh manusia yang lewat.

Bukan bermaksud menakuti, tapi perkembangan kasus rabies di Indonesia, khususnya di Bali sungguh memprihatinkan. Sampai sekarang tidak ada obat untuk seseorang yang sudah menunjukkan gejala rabies.

Cara mencegahnya mudah dan murah, jadi saya mohon, pedulilah pada diri sendiri dan anak-anak Anda. Saat Anda atau anak Anda digigit anjing atau binatang lainnya :

1. Cuci luka gigitan selama minimal 15 menit dengan sabun pada air mengalir .

Itu minimal, jadi jangan sampai kurang. Anda bisa melakukannya sampai 30 menit. Sabun akan membantu virus rabies yang lengket dengan lemak tercuci dengan sabun.  Anak kecil akan merasakan ini perih dan tidak nyaman, tapi tetap lakukan.

2. Kunjungi UGD terdekat, minta untuk dibersihkan, tapi jangan minta dijahit.

UGD tahu cara menangani luka gigitan, petugas kesehatan akan memberi banyak antiseptik dan akan dilakukan sedikit lama. Rasanya agak perih terutama untuk anak kecil. Jahitan untuk luka gigitan malah akan membuat luka yang lubang jadi tertutup. Resikonya adalah nanah yang akan keluar dari jaringan mati yang digerogoti bakteri.

3. Minta Vaksin SEGERA. GRATIS.

Di Bali , yang disediakan adalah VAR. Vaksin untuk Rabies yang akan disuntikkan gratis pada korban yang terkena gigitan binatang. Untuk wilayah lain info bisa didapatkan di RS terdekat.

4. AWASI

Jika yang menggigit adalah binatang peliharaan Anda, awasi hewan tersebut, apakah dalam waktu setidaknya 10 hari hewan itu mati. Hal ini tidak dapat dilakukan jika yang menggigit adalah hewan liar. Jadi, laporkan pada RT/Kelian banjar atau pihak yang dapat meneruskan informasi ke badan peternakan.

Di sebagian desa di kecamatan Kerambitan, kabupaten Tabanan Bali, malah dilakukan usaha dengan membunuh semua anjing pada suatu desa untuk mencegah penularan Rabies, tidak terkecuali hewan peliharaan. Di Kabupaten Tabanan sendiri, sudah ada 5 nyawa melayang pasien suspect Rabies. Sayang, walaupun beberapa diantaranya menunjukkan gejala khas Rabies setelah digigit anjing yang mengamuk, anjing itu dibunuh dan tidak dikubur sehingga tidak bisa diotopsi untuk dibuktikan.

Pertimbangan antara nyawa manusia atau nyawa anjing memang harus dipikirkan.

Apakah Anda akan mempertaruhkan nyawa anak atau diri Anda karena anjing Anda seharga jutaan rupiah yang Anda sayangi?

Apakah Anda akan mempertaruhkan nyawa anak atau diri Anda karena rasa perih saat mencuci luka bekas gigitan atau saat petugas UGD melakukan suntikan?

Hal-hal tersebut harus dipikirkan. Ingat, WHO sendiri sudah menerima laporan dari Departemen Agrikultur tentang outbreak rabies pada anjing pada bulan Desember 2008 dan 90% penular rabies pada manusia adalah anjing. Bukankah bodoh kalau kita tidak waspada?

Bulletin Gereja, Efek Genovese

Sunday, October 11th, 2009

Ini hari Minggu, dan saya datang ke rumah teman untuk mendiskusikan rencana penelitian di Puskesmas Kerambitan I. Penelitian kecil tentang kejadian Rabies di daerah itu. Namun, disini saya tidak akan menceritakan penelitian dan kehidupan di Kerambitan.

Sebuah bulletin 2 lembar berwarna hitam putih ada di atas meja, gambar depannya seorang wanita dengan dandanan tahun 1960 an.

Wanita itu adalah Catherine Genovese (Kitty), seorang wanita yang tinggal di New York, berprofesi sebagai manager bar di New York sana.

Dini hari, bulan Maret 1964, Genovese pulang dari tempat kerjanya menuju apartemen mengendarai mobil. Saat memarkirkannya di Long Island Railroad parking lot, sekitar 20 meter dari apartemennya, dia merasa diikuti oleh seseorang dari belakang. Saat Kitty turun dari mobil, dia melihat seorang laki-laki di belakangnya yang memegang pisau. Kitty lari menuju apartemen, tetapi sayang, laki-laki itu lebih cepat dari Kitty.

Laki-laki itu lalu meraih tubuh Kitty dan menusuk punggungnya beberapa kali. Kitty lalu jatuh ke tanah dan berteriak kepada siapapun yang bisa mendengarnya. “Oh Tuhan, dia menusukku! Tolong aku! Tolong!”. Teriakan itu berhasil membangunkan tetangga di sekitar dan membuat laki-laki itu pergi dari tempat kejadian. Terdengar suara keras, “Hey! Tinggalkan wanita itu!”. Suara itu datang dari tetangga apartemennya di lantai tujuh, tapi lalu suasana kembali senyap. Tak seorang pun turun dan menolong Kitty yang berlumuran darah. Lampu-lampu kembali mati dan gelap.

Kitty berjuang untuk tetap sadar dan meraih pintu apartemen yang terkunci, tapi tak beruntung, 5 menit kemudian laki-laki itu kembali datang, memukuli Kitty, memperkosanya dan menusuknya kembali beberapa kali lalu mengambil dompet yang berisi $49 dollar dan meninggalkan Kitty tewas di tempat parkir itu.

Kejadian ini menimbulkan pembicaraan di Amerika Serikat dan munculnya istilah Genovese Syndrome yang disebut juga bystander effec,t dimana, pada suatu saat yang darurat banyak orang yang dapat menolong tapi tak satupun yang menawarkan pertolongan atau langsung menolong.

Ini sama dengan saat seseorang mengalami kecelakaan motor, 10 orang lalu berhenti dan menonton, setelah puas tertegun, mesin kembali dinyalakan dan berjalan.

Saya yakin banyak kejadian seperti ini, tak hanya Catherine Genovese, tapi apa jadinya jika Catherine Genovese adalah diri sendiri. Bagaimana rasanya meminta tolong tapi tak ada yang menjawab. Sakit hati sampai mati.