Ramadhan yang membingungkan
Mungkin kalau malaikat penjaga kubur seperti dokter, pasti anamnesisnya panjang sekali padaku saat aku mati nanti. Belum lagi nanti Beliau harus konsul ke pihak yang lebih ahli yaitu Muhammad saw dan Allah swt sendiri.
Bisa jadi pertanyaannya begini :
Malaikat : “Kapan kamu terakhir puasa?”
Aku : “Kapan ya…..? lupa, aku sudah lama tidak melakukannya…”
Perutku : “Dia selalu berpuasa, satu bulan penuh, kecuali saat dia haid, tetapi apakah dia menggantinya sebelum puasa berikutnya tiba ya?”, lalu perut menengok ke Pusat Memori.
Pusat Memoriku : “Ehhh…. jangan tanya aku, aku saja tidak hafal 99 nama mulia Allah, tidak tahu persis riwayat hidup nabi Muhammad saw, isi Al-Qur’an juga aku tidak paham betul. Aku ini pelupa”
Malaikat : “Baik, kalau begitu, apa yang kamu keluhkan terhadap puasa-puasamu, sepertinya kamu sulit mengingatnya?”
Putri : “Tidak, hanya kadang aku merasa, apakah aku benar-benar puasa hari itu? Kadang aku marah sekali pada hal kecil, atau berbohong, lama setelah itu, aku sadar sedang berpuasa, aku lanjutkan, tapi setelah Ramadhan selesai, aku tidak yakin, apakah aku berpuasa”
Malaikat : “Oohh begitu, baiklah, sepertinya kamu agak sedikit kurang bisa berpikir (mungkin maksudnya bodoh dan telmi), saya akan konsulkan pada spesialis orang-orang seperti kamu, tapi sebelumnya saya infokan bahwa kamu dalam keadaan beresiko tinggi, dan harus dilakukan tindakan”
————
Lalu datanglah Malaikat pada Muhammad saw dan megnkonsultasikan resume tentangku
Malaikat : “Ya Rasul, umatmu ini, perempuan, umur 22 tahun, belum menikah, islam, bangsa indonesia, dengan keluhan utama tidak tahu kapan persisnya berpuasa karena dia tidak yakin apakah dia berpuasa atau tidak saat bulan-bulan itu.
Rasul saw : “Oohh… kalau begitu lakukan pemeriksaan penunjang pada kalbunya, apakah dia ikhlas akan puasanya dan menyesal atas perbuatannya, jika dia menjawab ya, mungkin kau perlu konsul pada Allah, tapi jika tidak langsung rawat inap dia di neraka serahkan pada penjaganya”
Lalu kembalilah sang Malaikat itu kepadaku,
Malaikat : “Hey Kalbu, apakah kamu ikhlas atas puasamu, dan menyesal saat kamu marah atau berbohong, dan tidak ingin mengulanginya lagi di kemudian hari…?”
Kalbuku : “Ikhlas…. aku memang ingin berpuasa, aku menyesal saat marah dan berbohong, aku tidak ingin mengulangnya lagi, tapi pada hari tertentu aku ternyata tidak kuasa menahannya”
Malaikat tetap tersenyum sabar menanganiku, dan akhirnya konsul pada Allah sang Maha Mengetahui,
Malaikat : Ya Allah, hambamu Putri Astiti, yang…. yang sekarang lagi ngeblog di putriastiti.com
Allah : Iya…. sudah lakukan tindakan invasif, dan jangan lupa KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi)
Malaikat : Baiklah Ya Allah….
Kembali lagi Malaikat itu padaku, kali ini membawa banyak berkas di tangannya,
Malaikat : “Maaf membuatmu lama menunggu, aku telah membawa berkas ini untuk kau tanda tangani. Persetujuan tindakan. Tindakan invasif akan dilakukan, menimbulkan nyeri dan akan mengakibatkan sedikit kerusakan pada tubuhmu, tujuannya untuk terapi, tetapi prognosis penyakitmu untuk sembuh 0%, kabar baiknya kau tidak akan pernah mati”
Lalu aku merasakan tanganku menjulur, mulutku tertutup rapat dan badanku tak bisa bergerak, tanganku segera menandatangani semua berkas itu, dengan mataku yang melotot melihat isi tindakannya, yang bertuliskan,
“Dengan saya yang bertanda tangan di bawah ini menyetujui untuk dilakukan tindakan berupa :
1. Melelehkan tubuh dari kepala sampai kaki, lalu mengembalikannya ke keadaan semula
2. Menusuk diri dengan besi panas dari belakang ke depan, lalu mengembalikannya ke keadaan semula
3. Membakar diri dengan api neraka, lalu mengumpulkan abunya untuk menjadi tubuh semula
Ket : Semua tindakan dilakukan tanpa anestesi (bius), dan dilakukan sampai kiamat tiba. Jika dosa masih tidak dibayar, tindakan diulang selamanya.
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA, SEMOGA SUKSES SAMPAI LEBARAN.
Tags: Ramadhan

August 24th, 2009 at 8:03 pm
Wah…, wah…, kamu benar-benar berusaha ya berpuasa
Selamat menjalan Ibadah Puasa Putri
August 24th, 2009 at 9:17 pm
waduh, mengerikan tuh 3 poin yang tertera pada berkas..
August 26th, 2009 at 11:28 pm
Mewrinding membacanya
klo bikin cerita jangan sadis gitu, biar gak inget alam kubur terus .
August 27th, 2009 at 3:09 pm
sumpah saya juga bingung !!!
August 30th, 2009 at 2:12 am
Rasanya Muhamad saw dan Allah swt ndak akan mau segitu repotnya cuma buat ngurusi kamu.
September 1st, 2009 at 1:22 am
wah semangat mbak…….
salam kenal y aku dari FK unej tapi masih belum lulus
September 2nd, 2009 at 3:30 pm
ouw, baru tau klo putri itu 22th…kirain…..
hehehhee
apakah prognosis penyakitnya udah infausta put?
September 3rd, 2009 at 2:38 pm
Subhanallah………………………
September 3rd, 2009 at 7:28 pm
muhasabah yg indah putri
September 4th, 2009 at 9:24 am
subhanallah, aku jadi merinding bacanya.. met puasa ya mba
September 5th, 2009 at 4:54 am
makasih put udah mengingatkan.
met puasa.
September 7th, 2009 at 8:48 pm
mantab.. menggetarkan qalbu.. mengubah prilaku..
September 9th, 2009 at 3:32 am
analogi yang unik, mbak… meski tetap merupakan pengingat bagi saya, dan mungkin kita semua. dan rutinitas serta kompleksitas kehidupan ini rasa-rasanya tak ubahnya dengan bius lokal untuk saya. kesadaran masih ada, namun sebagian hati ini mulai mati rasa…
btw, absolutely nice post!
September 15th, 2009 at 7:35 pm
@Cahya : terima kasih Cahya…
@Wira : ehh… berarti imajinasiku mengerikan ya bli?
@Sugeng : semoga itu berarti baik :p
@Thelo : tapi tetep puasa ga?
@Pushandaka : “aha! moment…” iya ya… kayaknya langsung jeblosin aja ya ke neraka… **jadi merinding**
@mbah gendeng : salam kenal juga. good luck kuliahnya ya….
@ekads : pasti dikira 42 ya? o em ji….
@indra1082 : alhamdulillah….
@amrie : begitukah?? :p
@Ridu : thanks du! met puasa juga….
@Dendi : thanks den! mudah-mudahan puasanya sukses ya
@Cahya jg nie soalnya dibawah jg ada cahya. hee : ciee yang bergetar… hiehie!!
@Kurotsuchi : untung ga general anesthesia ya… (bius total), thanks Kurotsuchi, btw, kenal sama Narimiya Hiroki ga? tell him he is my favourite… **ga nyambung + ngarep**