Izrail – Yusuf As Siba’i
Sunday, July 19th, 2009

“Karya inspiratif dari penulis kontroversial, Oh really?”, itu yang ada di pikiran saya saat melihat buku itu di rak ‘buku terbaru’. Pengarang zaman sekarang kadang licik. Siasatnya dengan menggunakan testimonial, embel-embel tulisan kontroversial, yang mereka pikir akan membuat pembeli tertarik dan langsung membeli tanpa membaca isinya lebih dahulu.
Saya buka buku yang tidak bersegel dan membaca pengantarnya..
“Maafkan saya Tuan Izrail, saya berani membayangkanmu menurut imajinasi saya, saya benci orang mengimajinasikanmu dengan sosok yang menyeramkan, karena dalam imajinasi saya Anda tidak seperti itu”. Kira-kira seperti itu maksud kalimatnya….
Dalam hati saya tertawa, dan makin penasaran, bagaimana kira-kira penulis ini membayangkan Izrail, malaikat pencabut nyawa itu.
Di buku ini diceritakan pemuda yang belum waktunya mati, tapi karena dia bernama sama dengan orang lain, malaikat itu salah mencabut nyawa. Akhirnya, pemuda itu melayang-layang diantara surga dan neraka karena dia tak bisa masuk ke salah satunya. Dalam perjalanannya, Izrail meminta tolong pada pemuda itu untuk menggantikan tugasnya.
Di dalamnya saya diajak bertualang di dunia gaib. Penulisnya membuat saya seperti berada diatas bumi, dimana kita bisa melihat perbuatan orang-orang di bawah kita dan lebih serunya lagi adalah membayangkan menjadi orang tak terlihat serta mempunyai hak untuk mencabut nyawa, menyenangkan sekaligus mengerikan.
Alur cerita dalam buku ini benar-benar jelas, tidak rumit dan banyak kalimat yang membuat saya geli sendiri, karena ternyata banyak pendapat penulis tentang kematian, dosa dan pahala sangat manusiawi, tidak dibuat-buat, tidak sok idealis tapi juga tidak terlalu kotor.
Kalimat pertama pada bab pertama buku ini, yang mengatakan bahwa si pemuda jongkok dengan dagu menyentuh lutut dan berhimpitan dengan roh lainnya dalam sebuah ruang , menunggu untuk dipanggil namanya, langsung membuat saya penasaran dan menghabiskan isinya sekali baca dalam satu hari. Ternyata tidak terlalu islami, hanya buku biasa… dan itu membuat saya semakin berminat
Untuk bersenang-senang saat senggang, buku ini sangat cocok dibaca. Sekedar membawa kita berimajinasi dan terinspirasi untuk menemukan ide lain untuk menulis. Pesan moral juga tidak lupa dilampirkan oleh penulisnya.
five thumbs up deh.
