Diskriminasi
Sekitar jam 7 Pagi kami semua sudah berkumpul di ruang pertemuan. Semua dokter muda, termasuk saya, duduk mengelilingi meja bundar dan menunggu seorang pemateri yang setidaknya akan membuat kami semua sedikit berilmu sebelum pergi ke poliklinik untuk berpraktek. Setelah menunggu sekitar setengah jam, petugas ruangan itu masuk dan mengatakan “Adik-adik tolong tunggu sebentar ya, pemateri sedang makan pagi”. Sungguh informasi yang tak penting…….
Akhirnya, setelah satu jam lebih kita semua menunggu sambil membuka buku prosedur terapi dan diktat, bergosip dan makan snack untuk mengatasi lapar karena belum makan pagi, datanglah sang pemateri berwajah klimis, baunya wangi, rapih dan berwibawa.
“Selamat pagi adik-adik, pada ngantuk ya, kita kenalan dulu saja deh, coba dari kiri saya, adik siapa namanya?”, pemateri itu memulai perkenalan.
“Saya Armanila Yestanto”, Nila menjawab
“Asalnya dari mana dik?”, pemateri itu melanjutkan pertanyaannya.
“Saya asli sini, tinggal di Jalan ****”, Nila menjawab lagi
“Orang tuanya kerja dimana?” pemateri itu menggali data Nila
“Ayah saya kerja di RS X, di sub bagian Y, dokter spesialis A”
Pemateri itu tersenyum dan langsung akrab dengan Nila, menanyakan kabar ayahnya, menceritakan bagaimana akrabnya dia dengan ayahnya, padahal Nila sendiri baru tahu bahwa ayahnya ternyata kenal dengan sang pemateri.
Pemateri itu melanjutkan sesi perkenalan itu “Yak, kamu sebelah Nila, dari mana, siapa namanya?”
“Saya Siti Zarlina, dari **** “, Zarli memperkenalkan dirinya.
“Oh… itu di daerahmu ada yang membunuh suku saya, kamu tetangganya ya?”, kali ini air mukanya serius, kita yang ada disana masih cekikikan, menduga pemateri itu bercanda.
“Mmm… yang kasus pembunuhan mana ya?”, Zarli bertanya setengah tertawa, berpikir itu lucu.
“Masa kamu ga tau, saya ga bercanda kok, kamu pasti kenal, daerahmu itu kan sempit, kamu pasti tau, atau kamu pura-pura ga tau ya..”, air mukanya mendadak serius, membuat kami jadi heran, kenapa hal tersebut begitu penting.
“Mmmm… wah saya ga tau”, Zarli kebingungan karena sang pemateri ternyata tidak bercanda.
“Ow… ya, selanjutnya”, pemateri itu menjawab dengan nada dingin dan perkenalan itu terus berlanjut, sampai akhirnya semua dokter muda disitu memperkenalkan diri.
****
Di suasana lain, saat saya jaga malam di UGD, beberapa bulan lalu, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih bayi. Entah kenapa teman berjaga saya saat itu hilang tiba-tiba. Saya diperintahkan oleh senior untuk mengenakan hanschoen (sarung tangan) sebelum memeriksa si bayi. Saya pikir, tumben saja senior itu berbaik hati mempersilakan saya memeriksa pasien ini, begitu juga perawat yang saat itu sedang bertugas bersama. Inilah giliran saya, si beruntung yag mendapat peluang.
Setelah saya periksa, saya laporkan hasil pemeriksaan dan senior itu mempercayai saya. Tanpa ba-bi-bu , senior tersebut memberi perintah pada perawat, dan perawat memberi instruksi pada saya untuk memulai terapi. Setelah semuanya diatasi, saya melihat riwayat pasien yang tadinya masih dipegang oleh senior. Ternyata pasien itu adalah pasien dengan HIV yang didapat dari ibunya, dan ibunya mendapatkannya dari suaminya. Saya tidak kaget karena menurut saya itu hal yang lumrah, pasien apa saja bisa datang ke UGD, tetapi yang membuat saya heran adalah perlakuan yang diterima si ibu dan bayinya itu. Kenapa dia terkesan harus dijauhi.
Tidak hanya sesekali hal ini terjadi. Masih banyak kejadian yang menurut saya terlalu jelek untuk diungkapkan. Beberapa orang masih menganggap mendiskriminasikan sesuatu itu hal yang wajar. Berpihak pada yang terbanyak, terkaya, terpandang, yang sehat , orang sesuku dan menjauhi si miskin, si sakit dan si infamous itu akan menghindarkan mereka dari kerugian.
Mulai sekarang seharusnya tidak perlu sok suci dengan berbaju putih dan berkelakuan sopan.
Attitude itu dari hati, bukan dari cara bersopan santun pada orang yang berpengaruh terhadap masa depan kita, sehingga kita tidak sungkan untuk membenarkan diskriminasi berkedok mawas diri.
*See also : http://www.stop-discrimination.info

June 22nd, 2009 at 6:37 pm
setuju –> Attitude itu dari hati, bukan dari cara bersopan santun pada orang yang berpengaruh terhadap masa depan kita. jadi inget kampanye politik 2.0 yah..
, harusnya jadi sikap para capres kita nantinya
June 22nd, 2009 at 8:55 pm
dasyaaat benar-benar perubahan yang signifikan….. putriastiti.com can you imagine that!!!
June 22nd, 2009 at 8:56 pm
ahak ahak dot com sendiri!
June 22nd, 2009 at 10:06 pm
Yah…, begitulah kehidupan. Ga cuma buat yang jadi koass
Kita memiliki kecenderungan yang dibangun oleh ingatan akan kejadian dan informasi yang kita dapatkan selama ini, terkadang kita “tidak” sadar bahwa tindakan kita bertopangkan kecenderungan tersebut.
Sayangnya inilah yang membentuk karakter… ^_^
June 22nd, 2009 at 10:07 pm
@ Arham : capres emang lagi nge-trend
@ Rahaji dan Saylow : kalian ini saudara kembar yang telat…. itu uda ada di “pos pertama” cabe dehh….
June 22nd, 2009 at 11:29 pm
akhirnya…
putri nulis juga..
setujuuu…
jangan sampai ada kelompok manusia yang termarjinalkan hanya gara2 perbedaan status sosial, penyakit, apalagi ekonomi.
menyakitkan
June 23rd, 2009 at 12:53 am
duuhh… andaikan semua dokter berpikir seperti kamu put…
bakal nggak sia-sia title dan predikat sebagai seorang penyembuh yang disebut dokter.
VOTE PutriAstiti for Presiden Dokter.!!!!
ahe..ahe..
June 23rd, 2009 at 9:04 am
Betul putri, saya pun sering mengalami hal yang sama karena kebiasaan pakai sendal dan celana pendek pihak RS di SMG beberapa kali ragu dan takut kalau saya periksa. Diskriminasi ini kental sekali, tdk malukah dgn sumpah mereka, atau mereka sebelum bertugas tidak lagi disumpah?
June 23rd, 2009 at 9:11 am
“Attitude itu dari hati, bukan dari cara bersopan santun pada orang”
hohoho setubuh…. artinya attitude yang ga di buat² kan
nah menyangkut diskriminasi itu, lalu dimana peran anda/aku/kita? sebagai penontonkah? sang superhero? atau sebagai komentator doang? atau bahkan malah jadi juri?
sementara aku cuman jadi penonton yg berkomentar huehue…..
June 23rd, 2009 at 9:28 am
tentang diskriminasi pada ibu dan anak yang positif HIV itu, kok bisa ya? padahal mereka kan dokter yang ngerti tentang bagaimana HIV dan AIDS, kalau orang awam yang takut seperti itu mungkin masih wajar karena orang awam tidak mengerti, takut tertular..
June 23rd, 2009 at 12:41 pm
selama ini aku selalu memandang positif orang yang “takut” dengan Odha. Tapi tentu saat ini dengan mudah bilang “konyol” untuk dokter dan perawat itu. Selama ini saya selalu koar-koar ini HIV adalah masalah medis. Tapi ternyata banyak dokter dan paramedis yang konyol pada hal medis.
ilmu kedokteran, sekali lagi harus diisi SKS soal empati.
semoga sepertiga dokter muda di sanglah membaca postingan mu ini putri.
June 23rd, 2009 at 2:27 pm
aduh kok segitunya sih si seniormu itu. masak menilai orang lain hanya dari identitasnya. terus perlakuan pada ibu positif HIV itu jg. aduh. teganya kalian.
(
June 23rd, 2009 at 10:59 pm
Setuju banget aku dengan postingan kamu. Jangan pernah ada lagi diskriminasi dan nepotisme!
June 24th, 2009 at 11:49 am
Saya juga paling benci segala bentuk diskriminasi. Tapi kalo di-es krim-inasi (alias dikasih es krim) saya baru setuju!
June 26th, 2009 at 6:24 pm
Idem!!!!!!!!!!!!!!!
June 27th, 2009 at 12:07 am
Waw sIp, dan semoga dokter muda sobat saya ini tidak terjerebak dengan model seperti itu
June 27th, 2009 at 8:21 pm
s7 mba, Smoga para korps baju putih bisa mengabdi sesuai profesinya dengan tulus tanpa ada adiskriminasi thdp pasien. btw lam knal ya..
June 28th, 2009 at 10:54 pm
satu kata buat putri: salut banget sama kamu. *eh itu sih empat kata yah?*
June 29th, 2009 at 5:05 am
diskriminasi sama dengan kriminalisasi dalam bentuk lain,…
June 29th, 2009 at 11:51 am
wahh ..syukurlah ada dokter yg sadar dg situasi itu. Meski dokter itu manusia, tpi tdk selayaknya mendiskriminasikan pasien yg ada dalam pengawasannya… apapun alasannya. salut, semoga semangat itu tak luntur dan menular pada rekan2 seangkatannya…
June 29th, 2009 at 9:14 pm
lawan diskriminasi
*
bravo kesetaraan
*malah kayak demo
June 30th, 2009 at 8:05 am
Hhmm… memang pada kenyataannya tidak semua dokter bisa tulus dan berdedikasi pada amanahnya. Tetap saja masih ada rasa enggan ini itu pada pasien. Memang benar dokter itu hanya manusia biasa, tp dengan jabatannya sbg dokter yg tugasnya menolong & menyembuhkan orang, memiliki sifat empati dan ikhlas itu wajib. Itu adalah amanah, bukan hanya menjalankan kewajiban.
Berlindung di balik jas putih keren tp punya hati busuk? Mati sajalah dokter kayak gitu.
June 30th, 2009 at 11:06 pm
Diskriminasi…?? UNtuk apa…?? KIta tetaplah makhluk-NYa yang sesungguhnya tiada daya…….
July 6th, 2009 at 12:11 am
yang penting ntar jd dokter jgn gituu hehehe..
Awignam..
July 7th, 2009 at 4:21 pm
Wah, setuju banget nih klo ngomongin masalah stop diskriminasi
Menurut saya, orang2 yg pikirannya sempit kayak gitu ngga akan berkembang. Yuk mulai dari diri sendiri…
July 8th, 2009 at 2:11 am
jadi inget pelajaran PPKN waktu sekolah dulu…salam D3pd ^_^ V
July 8th, 2009 at 7:56 am
Yap, saya juga sering mengalami diskriminisasi saat koass dulu terutama saat mendapatkan dosen penguji. Tapi yang namanya manusia ya memang seperti itu, kedepannya kita jangan ikut ikutan seperti itu, apalagi dalam melayani pasien. Mantaps atas tulisannya, Put.
July 9th, 2009 at 11:03 pm
wah seru yaa ..
iya tuh mestinya ga boleh diskriminasi .. cuma ya mau gimana lagi .. orang reflek takut kayanya kalo kayak gitu .. gue aja pake masker di kampus langsung diliatin orang orang ahahaha
July 9th, 2009 at 11:03 pm
padahal orang yang pake masker itu berarti berniat baik lho, mau make masker supaya penyakitnya tetep ada di dia, ga kesebar ke orang lain, contohnya batuk2.. yakan ? hoho
July 15th, 2009 at 1:07 am
wah kasian tuh si ibu begitulah manusia
July 26th, 2009 at 9:16 am
hoo…
jadi inget dengan KOMPLIKASI : Drama DiUjung Pisau Bedah-nya Atul Gawande
July 27th, 2009 at 10:09 pm
Diskriminasi ternyata ada dimana2, tapi yang lebih mengherankan lagi dokter senior dan perawat itu, padahal mereka juga tahu dan paham bagaimana cara berinteraksi dengan pada Odha dan tahu bagimana penularannya. Tapi kenapa mereka koq masih melakukannya ?!?
.
Btw, Salam kenal dengan dokter Putri. Kenapa blog nya warna nya item dan gak keliatan di bagian coment (aq pake IE).
August 9th, 2009 at 1:35 am
hey.. ponakanku yg ok… ‘tar ambil “specialis hati yg terluka” ya.. ! ha9….
abis terlalu banyak org yg terluka hanya krn perbedaan status.., hebat kau putri.., spirit3…. smoga km bs jd dokter yg punya hati.. he..he… GBU..!
August 16th, 2009 at 6:38 pm
Thanks for your comments. I think I have good people around me
September 7th, 2009 at 9:37 pm
halo putri. aku speechless bacanya. aku ingat kakakku pernah meneliti tentang “kebal-rasa” di kalangan dokter2, bukan krn dokter lalu rasa kemanusiannya mengalahkan segala hal. aku pikir itu cuma teori saja. ternyata beneran ya? you are not going to be numb, are you?
September 8th, 2009 at 6:52 pm
@Titut : no I am not….. I need your support…
September 14th, 2009 at 8:14 pm
waahh… saya tidak menyangka adik putri ini punya blog dot com yang muantap. salamat yooo. ini kunjungan pertma saya n pasti bukan yang terakhir.
saya suka tulisan ini. yah begitulah hidup jadi Ko ASS dik, dokter muda masih tetap hanya dianggap ass dik hehehe. saat masuk ke dunia koass lah kita tahu gimana sebernarnya dunia dokter itu kayaknya tidak hanya dibali begitu dimana2 di indonesia kayaknya seperti itu.
diskrimanasi selalu ada bahkan setelah menjadi dokter tetap seperti itu.
jangan heran orang yang gak pernah nongol ntar dapet nilai A, jangan heran teman yang gak sebaik dirimu tiba2 duluan jadi specialis n pns n apalah seterusnya yang bikin ente terkaget2… hehehe…
smanguuaatt
tapi setiap dokter tetaplah memiliki sebuah cerita hidup.
mari tetap berpegang teguh pada sumpah dokter kita. pendahulu kita yang mewariskan baju putih2 ini tidak sekedar memilih warna baju, tapi ada sebuah pesan disana. sebuah tugas yang putih
September 15th, 2009 at 1:41 am
@haryoga : aku jadi terharu bacanya…..
(