Archive for June, 2009

Diskriminasi

Monday, June 22nd, 2009

Sekitar jam 7 Pagi kami semua sudah berkumpul di ruang pertemuan.  Semua dokter muda, termasuk saya, duduk mengelilingi meja bundar dan menunggu seorang pemateri yang setidaknya akan membuat kami semua sedikit berilmu sebelum pergi ke poliklinik untuk berpraktek. Setelah menunggu sekitar setengah jam, petugas ruangan itu masuk dan mengatakan “Adik-adik tolong tunggu sebentar ya, pemateri sedang makan pagi”. Sungguh informasi yang tak penting…….

Akhirnya, setelah satu jam lebih kita semua menunggu sambil membuka buku prosedur terapi dan diktat, bergosip dan makan snack untuk mengatasi lapar karena belum makan pagi, datanglah sang pemateri berwajah klimis, baunya wangi, rapih dan berwibawa.

“Selamat pagi adik-adik, pada ngantuk ya, kita kenalan dulu saja deh, coba dari kiri saya, adik siapa namanya?”, pemateri  itu memulai perkenalan.

“Saya Armanila Yestanto”, Nila menjawab

“Asalnya dari mana dik?”, pemateri  itu melanjutkan pertanyaannya.

“Saya asli sini, tinggal di Jalan ****”,  Nila menjawab lagi

“Orang tuanya kerja dimana?” pemateri itu menggali data Nila

“Ayah saya kerja di RS X, di sub bagian Y, dokter spesialis A”

Pemateri itu tersenyum dan langsung akrab dengan Nila, menanyakan kabar ayahnya, menceritakan bagaimana akrabnya dia dengan ayahnya, padahal Nila sendiri baru tahu bahwa ayahnya ternyata kenal dengan sang pemateri.

Pemateri itu melanjutkan sesi perkenalan itu “Yak, kamu sebelah Nila, dari mana, siapa namanya?”

“Saya Siti Zarlina, dari **** “,  Zarli memperkenalkan dirinya.

“Oh… itu di daerahmu ada yang membunuh suku saya, kamu tetangganya ya?”, kali ini air mukanya serius, kita yang ada disana masih cekikikan, menduga pemateri itu bercanda.

“Mmm… yang kasus pembunuhan mana ya?”, Zarli bertanya setengah tertawa, berpikir itu lucu.

“Masa kamu ga tau, saya ga bercanda kok, kamu pasti kenal, daerahmu itu kan sempit, kamu pasti tau, atau kamu pura-pura ga tau ya..”, air mukanya mendadak serius, membuat kami jadi heran, kenapa hal tersebut begitu penting.

“Mmmm… wah saya ga tau”, Zarli kebingungan karena sang pemateri ternyata tidak bercanda.

“Ow… ya, selanjutnya”,  pemateri itu menjawab dengan nada dingin dan perkenalan itu terus berlanjut, sampai akhirnya semua dokter muda disitu memperkenalkan diri.

****

Di suasana lain, saat saya jaga malam di UGD, beberapa bulan lalu, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih bayi. Entah kenapa teman berjaga saya saat itu hilang tiba-tiba. Saya diperintahkan oleh senior untuk mengenakan hanschoen (sarung tangan) sebelum memeriksa si bayi. Saya pikir, tumben saja senior itu berbaik hati mempersilakan saya memeriksa pasien ini, begitu juga perawat yang saat itu sedang bertugas bersama. Inilah giliran saya, si beruntung yag mendapat peluang.

Setelah saya periksa, saya laporkan hasil pemeriksaan dan senior itu mempercayai saya.  Tanpa ba-bi-bu , senior tersebut memberi perintah pada perawat, dan perawat memberi instruksi pada saya untuk memulai terapi. Setelah semuanya diatasi, saya melihat riwayat pasien yang tadinya masih dipegang oleh senior. Ternyata pasien itu adalah pasien dengan HIV yang didapat dari ibunya, dan ibunya mendapatkannya dari suaminya. Saya tidak kaget karena menurut saya itu hal yang lumrah, pasien apa saja bisa datang ke UGD, tetapi yang membuat saya heran adalah perlakuan yang diterima si ibu dan bayinya itu. Kenapa dia terkesan harus dijauhi.

Tidak hanya sesekali hal ini terjadi. Masih banyak kejadian yang menurut saya terlalu jelek untuk diungkapkan. Beberapa orang masih menganggap mendiskriminasikan sesuatu itu hal yang wajar. Berpihak pada yang terbanyak, terkaya, terpandang, yang sehat , orang sesuku dan menjauhi si miskin, si sakit dan si infamous itu akan menghindarkan mereka dari kerugian.

Mulai sekarang seharusnya tidak perlu sok suci dengan berbaju putih dan berkelakuan sopan.

Attitude itu dari hati, bukan dari cara bersopan santun pada orang yang berpengaruh terhadap masa depan kita, sehingga kita tidak sungkan untuk membenarkan diskriminasi berkedok mawas diri.

*See also : http://www.stop-discrimination.info