Mengapa Saya Menyayangi Ibu
Saturday, May 2nd, 2009Ibu adalah musuh saya waktu kecil sampai puber dan berlanjut ke masa kuliah awal. Pendapat-pendapatnya benar-benar old-fashioned dan tingkahnya tidak seperti seorang ibu. Saya merasa Beliau masih ingin dimanjakan. Saya tidak suka saat dia menangis waktu Ayah terlalu lama pergi ke luar kota. Apa sih yang dimasalahkan dari -ditinggal seminggu oleh Ayah? Toh nanti uangnya untuk beli maskara, bedak, lipstik dan pakaian baru yang bagus untuk kita semua.
Ibu adalah seorang yang tidak mau disalahkan. Sepertinya dia cocok menjadi senior sebuah acara orientasi mahasiswa, yang menganut dua peraturan : 1. Apa yang dikatakan senior selalu benar 2. Jika senior salah kembali ke no. 1.
Ibu adalah seseorang yang punya tabiat buruk dalam berdebat. Beliau akan mengutarakan pendapatnya atau sanggahannya dan berlalu begitu saja tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Ciri khasnya saat Beliau sudah tahu bahwa pendapatnya dapat disanggah dengan mudah. Sebagai tambahan supaya seluruh dunia tahu, Beliau juga suka menaruh benda-benda kecil sembarangan dan menyulitkan seisi rumah mencarinya dan yang membuat saya kesal adalah saat dia berteriak kesal pada orang yang melakukan hal sama, walaupun sangat tidak sesering Beliau.
Saya tidak cocok dengan Ibu. Ibu bukan orang favorit saya dalam keluarga. Saya juga bukan orang favorit ibu dalam keluarga. Buktinya, Beliau lebih suka mengajak adik perempuan saya memilih baju daripada saya, dan saya lebih suka menghabiskan waktu dengan diri saya daripada memilih pakaian, memilih warna, atau memilih bentuk dengan ibu. Selera kita sama sekali tak sama.
Tetapi ada yang berubah kemudian. Saat saya mengalami titik balik. Saat dimana saya tidak melihat orang tua saya adalah orang tua terbaik (tetapi saya tetap bersyukur lahir karena mereka). Saat dimana saya tahu apa yang ayah saya lakukan terhadap keluarga bisa jadi salah, perhitungan-perhitungan mereka yang tidak pas untuk keuangan, waktu dan masa depan. Ternyata orang tua juga bisa salah. Ternyata menjadi orang tua itu tidak harus menjadi sempurna, tidak harus pintar memperhitungkan sesuatu yang menyangkut masa depan anak-anak mereka, tidak harus pintar memberi batasan pada anak, dan sebagainya. Setiap orang punya kemampuannya sendiri untuk prediksi, dan sepertinya saya sudah mulai tahu kemampuan prediksi orang tua saya dan saya memberikan nilai B+ untuk Ayah dan C+ untuk Ibu.
Kembali lagi pada Ibu.
Setelah mata saya terbuka, ternyata ibulah yang harus disayangi. Ibu yang menengahi semua pertengkaran adu “sok logika” saya dengan Ayah. Ibu yang mampu membalas kata-kata kasar saya, saudara-saudara saya dan Ayah dengan masakan yang super lezat. Ibulah yang mampu bangun pagi dan menanyakan apakah saya sudah siap berangkat ke RS dan memastikan perut saya tidak dangdutan saat jaga di poliklinik, dan entah kenapa, hasil setrikaan saya dengan ibu masih kalah lembut dan wangi.Ibulah yang membuat adik-adik saya mengalah dengan keegoisan saya. Ibu juga yang membuat mood saya berubah menjadi sangat bagus dalam waktu satu menit hanya dengan satu biji kue mochi. Ibu juga membuat saya merasa nyaman saat saya berada di lingkungan paling “ngga banget” walaupun dia hanya duduk di samping saya dan menawari saya minum.
Thanks Ma, tapi post ini harus diakhiri, jika tidak, blog ini akan dipenuhi oleh jati dirimu yang terlalu memukau. Jadi, satu posting blog saja ya ….. :p
Aku Sayang Mama.
