Saya ingat waktu hari pertama jaga di lab. Bedah.
Bingung…..! Takut….!
Saat pasien dibawa dalam keadaan kesakitan dengan bed dari luar UGD, saya bersiap, tapi tidak tahu apa yang harus saya siapkan. Bahkan, untuk melihat pasien, menanyakan apa yang terjadi dengannya saja, saya tidak berani.
Kenapa? Bukan karena lukanya yang menganga, bukan karena darahnya yang tercecer atau suaranya yang keras (AARRGGHH!! Tolong dokter Sakkiitt!!) atau karena keluarganya yang panik, tapi karena saya belum tahu apa yang harus diperbuat, siapa yang harus saya lapori kalau saya tidak tahu sesuatu, apakah pasien itu dalam keadaan gawat, dimana harus ditempatkan, apa yang dia perlukan.
Saya terus mengekor di belakang senior saya hari itu. “Kak….. kalau pasien datang, kasitau aku ya ada apa dengan dia, musti ngapain…”, bisikku.
“Jeg tenang gen….. ikut-ikut aja… ntar juga tau….”, kata senior saya itu sambil menarik ke atas celana pinknya yang kedodoran.
Tapi senior itu bohong. Justru kalau saya ikut-ikut terus saya tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan pasien itu.
Hari kedua saya nekat.
Saat ada pasien datang, saya langsung berdiri di depan, dekat dengan residen yang ingin menangani pasien. Kepala saya yang kosong ini ternyata masih punya telinga dan dapat mendengarkan perkataan si pasien beserta pertanyaan-pertanyaan residen saya, sambil sesekali menolongnya mengambil sesuatu untuk keperluan pasien. Dari sana saya tahu apa yang harus dikerjakan, walaupun dengan sedikit payah karena saya lebih banyak tidur setelah jaga. Hanya belajar sedikit. (Sedikittttt aja….) hehe!
Sepertinya saya terlihat seperti si bodoh bersemangat sampai minggu kedua, mungkin sampai minggu ketiga ini juga. Tapi setidaknya, saya sedikit demi sedikit tahu apa yang harus dikerjakan dan jujur saja, kegiatan jaga, walaupun pasien tidak berhenti datang ke UGD seperti sabtu lalu, sangat menyenangkan.
Jaga di Bedah itu menyenangkan selama ini, karena disana kita banyak belajar dari residen yang hampir semuanya kooperatif, mau sedikit berbuih untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan pasien, walaupun dalam setiap pertanyaannya, kita menjawab dengan “Hehe! Ga ngerti dok, jadi gimana sih….?”, beberapa dari mereka tersenyum dan menjelaskan lagi.
Tidak semua residen seperti itu memang, tapi dalam setiap jaga malam, ada saja yang begitu, sehingga saat jaga kita mendapatkan sesuatu, tidak hanya sekadar membantu mendorong bed pasien ke tempat radiografi, disuruh ambil hasil lab sambil ngantuk, atau membetulkan infus pasien yang macet, atau yang parah lagi, dibentak-bentak.
Mungkin inilah mengapa, banyak sekali dokter muda yang bilang, lab yang paling menyenangkan adalah Bedah.
Disini saya jadi tahu, ternyata seseorang yang mau membagi ilmunya akan lebih dihargai walaupun kenyataannya, ilmu orang itu lebih sedikit daripada seseorang yang tak berbagi, dan rahasia dalam kerjasama yang bagus adalah senyum dan berbagi.

Yoi put, kalau mau tahu itu harus usaha. Lebih kita dianggap bego awalnya, dari pada otak kita kosong selamanya.
Oya, blogku sudah jadi. Postinganku juga. Tapi jelek sih, namanya juga pemula. Nanti kasih komen yang bagus-bagus ya.. Yang membangun, kayak residen-residen bedah.
Ya udah, semangat di bedah.
Aku juga sih. Readingku belum jadi sama sekali. Hwaaa…
Wah domain baru nih Put? Congrtas ya… musti makan2 nih
Btw, tentang jaga, iya… learning by doing… gitu kata orang2. Musti berani ngambil langsung Put biar tambah nempel. Pas ngambil ya sekalian korek2 ilmunya. Hehe… masih di bedah?
wahh jadi inget grey’s anatomy nih..huehue…
cieehh…yang blog nya udah jadi…
mantap kok mantap!!
wihihihii seruuu abissss..
kemaren gue baru denger ospek temen gue gitu kedokterann.. ama mayat2 gituu suru keluarin otak dari kepaalaa auehaueaheaue parah paraaahh
hehe, tp lebih baik terlihat bego mba, drpd malu bertanya ntar malah bego2 teruss (gubrragg…ga nyambung ya, dilem aja deh mba biar nyambung)
mantabs…..
ditunggu cerita-cerita berikutnya mba…..
eehh ada yg ketinggalan, ttg residen2 yg pelit ilmu.. itu ngingetin kita, saat nanti udah jadi senior, kita jd tauuu cara yg baik untuk memperlakukan junior.