Posted by Putri in Body, Mind & Diseases, Mind Friday, 12 March 2010 11:58 3 Comments
Dona dan Doni adalah kembar. Dona perempuan dan Doni laki-laki.
Mereka hidup bersama ayah dan ibu tirinya. Ibu kandung mereka meninggal saat melahirkan mereka karena kelelahan dan perdarahan.
Dona dan Doni saling membantu satu sama lain. Ibunya sering memukuli mereka, melemparkan makanan basi ke wajah mereka dan mengusir mereka dari rumah saat ayah mereka bekerja.
Saat ayah mereka pulang, sang ibu tiri akan berubah menjadi seorang yang manis di hadapan ketiganya.
Ayah mereka tak pernah tahu, sampai suatu saat, secara tidak sengaja si kembar ditemukan sedang mengorek isi sampah di depan warung makan siang yang biasa dikunjungi sang ayah dekat kantor.
Ayah pun pergi ke rumah, mengusir si ibu tiri dan hidup bahagia dengan si kembar.
Itulah yang diceritakan nenekku waktu aku tidur dulu. Selalu menggunakan nama Dona dan Doni, ada tokoh ibu tiri dan sang ayah yang tidak pernah tahu bahwa buah hatinya sedang disiksa di rumah, dengan akhir cerita bahagia, dengan ayah yang menemukan si kembar itu menderita dalam kondisi yang berubah-ubah.
Waktu kecil jujur saja, aku bosan sekali mendengar cerita itu. Itulah sebabnya kemudian aku mengantuk, tidak bertanya lebih lanjut apa yang ada dibenakku.
Pertanyaanku dulu adalah, kenapa nenek bilang Dona dan Doni itu kembar? Mereka laki-laki dan perempuan. Akan semirip apa anak kembar yang beda kelamin? Lalu, apakah tidak ada kesempatan ibu tiri jadi baik? Tidak adakah ibu tiri yang baik? Dan Ayahnya itu, kenapa dia bodoh sekali, apa tidak ada bekas di badan Dona dan Doni yang membuktikan bahwa mereka disiksa?
Saat cerita itu berlanjut, kipas sate itu membawaku ke alam mimpi. Selalu seperti itu. Saat bangun tidur, yang aku ingat cuma kepastian kalau seseorang yang kutemui terakhir sebelum tidur ada di sampingku. Jika tidak, aku akan mencarinya mati-matian dan kesal kalau orang itu pergi ke luar atau tidak ada lagi di rumah.
Lalu aku mulai sekolah, Dona dan Doni tidak ada lagi di pikiranku. Yang ada matematika, permainan engklek, lompat karet, sampai fase surat cinta. Saat itu aku di SMP, dan mulai menemukan tentang Dona dan Doni. Pelajaran reproduksi yang menarik
tentang sperma dan sel telur. Kemungkinan dua sel telur dan dua sel sperma yang terbuahi yang dapat menghasilkan anak “kembar” yang dapat berbeda kelamin. Dona dan Doni membantu mengerti itu.
Sosiologi di SMU, pelajaran yang tidak menarik dan membuat bolos empat kali pertemuan. Membuat guru sosiologi mencari seorang dengan nama Putri Astiti yang alasannya meninggalkan pelajaran karena ada kegiatan eskul di luar sekolah. Dona dan Doni membantuku belajar tentang penyimpangan perilaku. Guruku kesal saat nilai ulangan susulanku 100.
Dona dan Doni masih kubawa saat aku masuk kuliah. Obstetri dan Ginekologi. Tentang indikasi operasi sesar pada Gemelli (hamil kembar). Pada keadaan tertentu, resiko perdarahan atau yang lebih berbahaya tentang ruptur pada rahim ada di dalamnya. Itulah mungkin kenapa nenek menceritakan alasan persalinan yang membuat ibu mereka meninggal.
Dulu aku heran, kenapa nenek begitu aneh menceritakan fiksi yang pahit pada cucunya, tapi kemudian aku berpikir, nenek hanya menceritakan realita yang dapat terjadi pada hidup. Entah hidup siapa. Hal yang seperti itu ada di dunia ini. Peri yang tinggal di semak-semak, negeri di awan, alat-alat ajaib, itulah yang tidak ada. Yang mungkin ada adalah si kembar Dona dan Doni. Mungkin nenek juga menitipkan pesan, hal buruk dapat terjadi pada sebuah keluarga, agar aku berhati-hati untuk mendirikannya. Mungkin juga beliau menitipkan pesan tentang pemeriksaan kehamilan secara rutin, atau tentang pengawasan anak agar tidak alfa seperti ayah Dona dan Doni. Yang jelas, semakin umurku bertambah, semakin cerita itu ada di realita kehidupan.
Posted by Putri in Hai Blog, Hari ini aku..... Sunday, 21 February 2010 09:01 6 Comments
Ngomongin orang itu dosa, tapi mari kita membicarakan karakter seseorang, mungkin juga diantara kita ada yang sama.
Aurelia saja ya namanya. Ini tokoh fiktif, walaupun nama itu terinspirasi dari genus hewan ubur-ubur.
Saya pernah kenal dengan seseorang yang mirip dengan Aurelia. Didengar bagus, dilihat bagus, semakin dilihat malah semakin bagus. Senyumnya bukan manis, tapi sempurna, bahkan walaupun cuma terlihat dari samping, cuma dari sudut bibirnya, senyumnya sangat cantik. Saya kenal Aurelia di tempat saya kuliah. Teman saat tugas di lab yang sama.
Aurelia ini cepat dikenal oleh semua yang ada di lab, iya dong, pintar, cantik, dibawa ke kondangan ga malu-maluin, tapi dia tidak pernah punya sahabat, tidak punya teman dekat yang lengket kemana-mana. Atau punya pacar bahkan….
Cantik tapi aneh, menurut saya. Orang cantik ga punya pacar dari lahir pasti kelainan. Entah keinginannya terlalu tinggi atau dia tidak suka laki-laki dan ingin pacaran dengan perempuan yang lebih cantik dari dia. (Saya musti jauh-jauh nih dari dia, uhum!).
Karena saya tidak punya teman lagi selain Aurelia di lab itu, terpaksa saya berteman dengan dia. Minggu kedelapan dia baru bisa buka mulut. Cerita-cerita tentang hal-hal perempuan, (dengan perempuan lain saya cuma butuh waktu 2 – 3 minggu kerja di lab yang sama) yang ga jauh-jauh seputar laki-laki dan keluh kesah.
Lalu saya tanya kenapa dia suka sendirian. Orang cantik bego itu bilang dia sulit bersahabat, selalu punya masalah dengan sahabat dekat, mencoba pacaran tapi tak pernah ada yang dia inginkan. Well, yea, dia punya banyak bekas pacar, yang dipacari 1 – 2 minggu. Saya tidak hitung itu, jadi saya memutuskan dia tidak punya pacar dari lahir. Saya punya definisi pacar sendiri.
“Aku ini susah dimengerti, mungkin itu makanya aku ga punya temen deket, karena aku benci orang yang ga mau ngerti, semaunya sendiri”. Saya diam, siap-siap mendengarkan hal lain. Sepertinya dia punya jutaan kata di ujung lidahnya. “Jujur Put, kadang aku juga suka kesel sama kamu, waktu aku sakit, kamu ga ngerti, kamu malah minta aku terus-terusan ke RS, kerja kelompok. Aku bingung, mungkin karena aku susah dimengerti ya…” Dia bilang itu dengan sinis. Sangat sinis sampai bikin saya kesal. Lalu dia meneruskan dengan semua luapan emosinya tentang saya yang tidak mau mengerti saat dia sedang diperintah oleh kepala ruangan untuk segera ke dokter penguji dan lain – lain yang baru saya mengerti sekarang. Dia pun tidak berhenti marah.
Mungkin dia bertemu dengan orang yang tepat, saya suka sedikit debat di hari yang sedang sulit. “Kamu tidak pernah memberitahu…. Kamu tidak telpon, kamu tidak bilang ada apa, kamu cuma marah tanpa sebab, lalu diam dan berlalu, penjelasan dari mimik muka? pantomim?”. Lalu dia melanjutkan kemarahannya. Saya bosan dan pergi. Saya sudah setengah jam mendengarnya uring-uringan. Saya masih punya tugas lain. Saya tidak tertarik dengan orang yang baru saya kenal, marah-marah menyalahkan orang lain.
Dia menjadi populer tahun ini dengan paras cantiknya, karakternya yang kata orang misterius yang membuat semua orang punya pendapat sendiri tentang Aurelia.
Dia jadi mirip puisi. Puisi tidak punya sahabat. Puisi dibuat penulisnya saat dia sendirian. Jarang membentuk paduan puisi seperti paduan suara. Seperti Aurelia yang sendirian. Puisi menjelaskan sesuatu yang tersirat, menurut maknanya sendiri. Seperti kata “Bulan” pada puisi yang saya artikan sinar temaram, orang lain mengatakan itu keindahan dan yang lainnya mengartikan itu sebagai kekasih. Yang tahu artinya hanya penulisnya. Penulisnya mungkin berharap karyanya dikenal orang, dengan mengaburkan makna, berharap kita bisa mendalaminya. Kebanyakan penulis juga mengharap pembaca tahu artinya.
Saya pikir saya tidak perlu menjadi puisi seperti Aurelia yang indah. Saya hanya tidak ingin saya dimengerti diri sendiri. Lebih baik saya jadi poster yang mudah dimengerti, berwarna cukup bagus untuk dilihat dengan bahasa sederhana, mampu menarik pembacanya. Itu saja sudah cukup. Pembuat poster akan terbantu dengan warna dan kata-kata yang dituliskan. Saya juga lebih sering berada di tempat yang tepat, sesuai dengan target pasar. hehehe!!
Trunyan adalah wilayah di Kintamani, di seberang danau Batur. Desa tempat kita bisa menemui mayat yang tidak dikubur, dan tidak bau. Jangankan orang Indonesia asli, orang Bali sendiri belum tentu pernah sampai kesana.
Kenapa bisa begitu?
Posted by Putri in Body, Mind & Diseases, Mind Friday, 22 January 2010 20:40 13 Comments
Jenuh pasti ada saat kita sedang melakukan pekerjaan rutin yang tidak ada henti-hentinya. Dari bangun pagi sampai malam kerjanya itu-itu saja. Kadang beberapa dari kita terjebak di ruangan 4 x 4 dengan komputer di depan dipaksa rekap data, menghitung, menulis, seharian.
Ada beberapa cara mengatasi jenuh, dari yang biasa saja sampai yang nyeleneh, supaya penatnya bekerja tidak terlalu terasa, tapi juga tidak merugikan siapapun termasuk diri kita sendiri….
Pilih salah satu, semoga membantu saat waktu terasa sedikit :
- Carilah TV, nonton acara lucu sebentar. Tidak ada? akses video-video lucu. Yang bisa bikin tertawa, dengan begitu beban lepas sebentar dan tidak membuat kecanduan yang dapat membuang waktu.
- Lakukan gerakan ini : berdiri dari tempat duduk – membungkuk dan sentuhkan kelingking kaki kiri dengan kelingking kanan, sembari kelingking masih menempel, sentuh jari manis tangan kanan ke jari manis kaki kiri dst sampai jempol dan angkat tangan kiri, lakukan sebaliknya pada kaki kanan. Setelah itu, lakukan gerakan mencucu dan tersenyum lebar sambil meregangkan tangan kebelakang. Lakukan ini berulang selama 5 kali.
- Punya kamera di hp atau laptop? Saatnya action. Keluarkan muka-muka aneh. Dari yang eksotik sampai yang nerd. Seekspresif mungkin. Kalau perlu bikin videonya dengan volume 0% agar orang di samping bilik Anda tidak terganggu, setelah itu lihat kembali foto-foto itu. Kalau perlu tunjukkan pada teman kerja Anda betapa Anda berbakat jadi model kamera pribadi. Jangan lupa dihapus kalau ga mau jadi aib.
- Jalan-jalan.
Keluar dari bilik, berjalanlah ke sudut kantor sampai ke sudut satunya lagi. Cobalah ingat-ingat nama semua orang yang Anda temui di kantor, balaslah atau tersenyum duluan jika bertatap muka. - Telepon. Pacar, suami/istri, anak atau orang tua. Lakukan selama 5 – 10 menit, menanyakan apakah sudah makan siang, masak apa untuk malam nanti, apa rencananya hari ini. Tanya hal kecil yang mereka sukai.
Kadang seseorang dapat melewatkan waktu saat jenuh dengan hal-hal yang membuang waktu seperti main game, melihat situs porno, bergosip atau ngemil. Bagaimana dengan keuntungan yang kita dapat saat meluangkan sedikit waktu? Itu juga harus diperhitungkan.
Klise memang, tapi apa salahnya melakukan kegiatan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain untuk menghilangkan jenuh?
Good luck ^^
Posted by Putri in Headlines, Pengalaman Dokter Muda Friday, 15 January 2010 20:26 7 Comments
Koas kalo diceritain emang ga ada habisnya. Mungkin akan ada banyak seri cerita sampai saya lulus dari FK.
Sekarang mari kuceritakan tentang perbedaan koas malas, koas patologis, koas penjahat dan koas idealis.
Koas malas adalah koas yang kerjanya diem, duduk, nulis, nontonin orang kerja, nulis dan diem lagi. Koas macam ini sering bikin koas yang lain geregetan. Apalagi saat jaga di UGD, tiap ada pasien dia duduk di kursi nungguin kertas-kertas urusan administrasi, menyalin anamnesis residen, menawari residen nitip makanan saat dia pengen pergi makan, lalu datang kembali untuk duduk. Di atas jam 11 malam dia sudah terlelap di kursi UGD seakan sangat lelah menulis seharian, dan seolah tidak dapat dibangunkan sampai pagi. Jika ada pasien datang, dia akan tetap terlelap, dihipnotis oleh air conditioner di UGD yang sepoi-sepoi. Sesekali dia akan bangun, melihat-lihat di sekelilingnya lalu tidur lagi.


Your Responses