Aku mengubah suaraku menjadi tulisan, agar tetap terdengar walaupun tak lagi disana.

-Putri Astiti-

Nona Pejalan

February 23rd, 2013

Hari lagi panas di Bali. Turis asing membludak ingin ramai-ramai berjemur dan main ombak. Waktu itu saya dapat tugas menyambangi seorang pasien australia di hotel sekitar Seminyak. Pasien memang rata-rata dari australia. Sisanya negara lain.

Pasiennya seorang nona muda yang sudah dua hari ini perutnya bermasalah dan mengalami sedikit dehidrasi. Setelah selesai menangani keluhan dan menyuntikkan beberapa obat, dia merasa lebih enak dan kami langsung ngobrol banyak.

“the first time in Bali?”

“No… I’ve been here so many times since last year. Travelling alone much.”

“whoaa! you’re brave, a lady travelling alone to another country. Do you have business here?”

Yea… I got a brand here. I got a boutique in Jalan Seminyak…. You know **** ? For that. Yea. “

“Your own business? cool….”

“Yea… still progressing to well, you should do that too. Travel abroad. Do something you like, it’s important. It’s gonna be easier for you later . First time I tried Bali as it’s… I don’t know…. Many Australians go here… but then I went to some countries by myself. As you’re used to it, it’s just fun. You meet people there. Maybe from your country or another. Why I got the idea building business here. Hahaha! I think I can do it. Hahaha! “

“Nice idea…. If I got enough time and money, I sometimes think to visit Raja Ampat. Many travelers say it’s a very beatiful place. And I think about business too.”

“Yea… why not! Where is that Raja Ampat?”

“It’s still in Indonesia. Raja Ampat has the beautiful coral reef they said. It’s in Papua.”

“Oh yeaahh! I think I have heard about that! Yeap noted!”

“Ahahaa! yea… you should go there….”

“Nice to meet you doc..”

“Nice to meet you too, miss…”

Siapa sangka, obrolan dengan pasien dehidrasi yang sedang mengantar baju desainnya sendiri  itu semakin memberanikan hati saya untuk melangkah terus ke depan membawa diri saya sendiri dan mengembangkan kemampuan yang saya miliki.

Ada kalanya saya gagal dengan upaya yang saya jalankan. Tapi kalau ingat obrolan itu, rasanya untuk maju dan bahagia tidak ada batasan. Untuk seorang wanita sekalipun. Untuk siapapun. Yang membatasi dengan rasa takut cuma diri sendiri.

Sekarang saya sudah pindah dari Bali, mulai hidup baru lagi. Di tempat yang lain dari sebelumnya. Bukan di Papua juga sih. Tapi semoga beruntung ya….. :)

Melepaskan

February 3rd, 2013

Mama pergi ke luar kota untuk berlibur. Saya sudah tiga hari tidak lihat mama di dapur pagi-pagi dan tidak lihat beliau ketiduran di kamarnya saat saya pulang kerja. Rasanya ada yang hilang.

Ajik (Ayah) bilang, mama boleh berlibur selama yang dia suka di Jawa, sampai rindunya dengan saudara-saudaranya terobati, tapi setiap di ruang keluarga nonton televisi, Ajik selalu telpon mama seperti orang pacaran.  Menanyakan kabar mama dan adik di Jawa. Giliran Ajik yang rindunya harus diobati.

Mama memang sudah tidak harus mengurus anak-anaknya. Kami semua sudah bisa mengurus diri sendiri. Mama pergi sebulan ke Jawa untuk sekedar makan dan belanja tidak akan masalah, selama tabungan Ajik tidak dihabiskan.

Saya kangen sekali.

Lebih sulit saat ditinggalkan daripada meninggalkan.  Saat saya meninggalkan seseorang, saya punya tujuan lain dan cenderung melupakan sejenak orang yang saya tinggalkan untuk tujuan itu. Pada saat ditinggalkan, saya harus lapang dada karena orang itu meninggalkan saya untuk hal yang lebih penting untuk kehidupannya atau untuk hal yang disukainya. Atau orang itu memang harus pergi karena semesta tidak mengijinkan saya dan orang tersebut bersama lagi.

Harus banyak latihan untuk orang seperti saya, supaya tidak menahan orang yang ingin pergi demi kebaikannya. Karena sudah banyak meninggalkan dan ditinggalkan, saya sekarang sudah terbiasa. Saya makin mudah melepaskan dan mengikhlaskan kepergian orang yang saya sayangi, sampai pada akhirnya saya bertanya pada diri saya :

‘Apa saya salah kalau saya makin mudah melepaskan orang yang saya cintai untuk dirinya? Apa harusnya saya latihan mempertahankan orang yang saya sayangi, bukan latihan melepaskan? Atau apakah selama ini saya sudah cukup benar untuk memutuskan mana yang patut dilepaskan dan dipertahankan?’”

Aku mengubah suaraku menjadi tulisan, agar tetap terdengar walaupun tak lagi disana.

-Putri Astiti-